Pasar semu produk agribisnis


Produk-produk agribisnis memiliki jumlah permintaan tertentu tergantung peruntukannya. Seperti kata Bob Sadino, produk agribisnis yang diperuntukkan sebagai makanan pasti akan dicari oleh pasar. Selama manusia masih makan, pasti produk agribisnis yang diperuntukkan sebagai bahan makanan akan dapat terserap pasar. Namun hal itu juga tergantung dari sifat elastisitas produk tersebut. Bahan-bahan kebutuhan pokok seperti beras misalnya, bagi sebagian orang Indonesia elastisitasnya akan cenderung bersifat inelastis atau berapapun harga beras pasti akan dibeli, karena bagi sebagian orang Indonesia beras tidak dapat digantikan dengan bahan makanan lain atau “Kalau belum makan nasi (beras) sama saja dengan belum makan”. Lain halnya dengan produk agribisnis yang memiliki banyak subtitusi seperti daging. Ketika harga daging tinggi konsumen akan beralih ke bahan makanan yang lebih murah seperti ikan dan ayam. Karena ikan dan ayam juga memiliki fungsi yang sama dengan daging sebagai bahan yang memenuhi protein hewani. Karena itu daging memiliki sifat elastisitas yang elastis.

Permintaan terhadap suatu komoditas agribisnis tertentu akan berdampak kepada harga. Sesuai dengan hukum dasar ekonomi yaitu harga akan mengalami kenaikan apabila permintaan naik sedangkan pasokan tetap, atau permintaan tetap dan pasokan menurun. Terutama pada produk yang sifatnya inelastis. Kejadian yang menimpa komoditas cabai pada akhir 2010 dan awal 2011 dimana harga cabai meroket hingga tiga kali lipat merupakan contoh dari kejadian dimana permintaan tetap dan pasokan menurun. Karena cabai merupakan produk inelastis yang tidak bisa digantikan dengan komoditas lain. Kenaikan harga tersebut akan lebih parah lagi apabila permintaan cabai naik seperti pada saat Idul Fitri.

Mungkin saja permintaan suatu produk tetap atau mungkin rendah, namun seringkali terdapat beberapa orang yang menciptakan permintaan semu lewat berbagai cara agar harga suatu komoditas meningkat. Permintaan semu tersebut akan juga menimbulkan pasar semu. Hal ini dapat berbahaya sebab dengan adanya permintaan semu para pelaku budidaya atau penghasil produk-produk agribisnis akan menigkatkan produksinya dengan harapan mendapat keuntungan besar dari pasar yang sebenarnya semu tersebut. Jika produksi meningkat ternyata pasar sebenarnya tidak membutuhkan pasokan sebesar angka produksi yang dihasilkan, tentunya akan berakibat pada anjlloknya harga. Hal seperti ini telah muncul pada beberapa komoditas agribisnis. Diantaranya pada beberapa komoditas  trend. Pola bisnis pasar semu  diatur dan dirancang oleh beberapa kelompok komunitas tertentu yang memanfaatkan kondisi latah manusia untuk memproduksi barang yang sedang trend. Untuk membentuk bisnis menjadi trend semacam ini adalah dengan cara membuat suasana dengan pola permintaan secara semu, yaitu permintaan yang tidak sesungguhnya. Permintaan semu ini direkayasa oleh kekuatan dari orang-orang tertentu secara otomatis cenderung untuk mendukungnya. Akibat dari permintaan semu ini terhadap komoditas tersebut menjadi melambung tinggi, tidak terkendali bahkan terkesan irasional.

Dalam hal penciptaan pasr semu ini peran media masa sangat penting. Saat ini media dengan fokus pertanian sudah banyak beredar. Komoditas yang baru pasti akan ramai dibicarakan dan dapat menjadi fokus penting bagi media tersebt dalam setiap kali penerbitannya. Pikiran kotor yang ada adalah dugaan kerjasama antara media dan komunitas pengatur pasar semu tersebut. Media dengan mudah dapat membombastiskan suatu berita sehingga komoditas yang dibicarakan tersebut seakan-akan memiliki permintaan yang tinggi.

Sebagai contoh ikan hias Lou Han yang sempat membuat heboh dunia ikan hias. Ikan hias dari keluarga siklid yang memiliki kepala jenong ini sempat menempati posisi sebagai ikan mahal. Harga puluhan hingga ratusan  juta rupiah bahkan pernah dimiliki oleh ikan ini. Apalagi apabila pada tubuh ikan ini terdapat rajah yang menyerupai tulisan cina. Berbagai kelebihan diciptakan oleh beberapa pelaku bisnis ikan hias temasuk membanggakan ikan hias miliknya di media atau lomba-lomba yang diadakannya sendiri. Harga ikan louhan yang tinggi tentunya membuat pembudidaya ikan tergiur untuk mencoba membudidayakan ikan ini, dengan harapan dapat memperoleh keuntungan besar. Namun ternyata permintaan ikan louhan cenderung tetap sehingga produksi yang meningkat tersebut berakibat kepada turunnya harga ikan louhan.

Dalam bisnis tanaman hias juga terdapat kejadian penciptaan pasar semu. Tanaman hias seperti aglaonema, anthurium, dan adenium sempat juga menempati harga yang fantastis sehingga banyak orang tertarik untuk membudidayakan tanaman-tanaman tersebut. Bahkan konsumen seakan-akan juga dapat disetel untuk jadi penghobi tanaman tersebut walaupun sebelumnya bukan penghobi tanaman. Martabat yang tinggi dikenakan bagi penghobi yang memiliki tanaman hais tertentu. Padahal mungkin sebelumnya tanaman hais yang dimaksud tidak memiliki nilai eknomis apa-apa. Mungkin saja tanaman yang tadinya cuma hidup dipinggir kali menjadi berharga puluhan juta rupiah karena trend yang ada. Namun yang terjadi harga-harga tanaman tersebut akhirnya menurun.

Dalam agribisnis yang bersifat trend mungkin hal-hal seperti pasar semu tersebut dapat dengan mudah terjadi. Namun tidak itu saja, dalam komoditas yang sifatnya bukan trend, pasar semu juga dapat terjadi. Pasar semu dapat diciptakan oleh para tengkulak-tengkulak atau para pengumpul produk-produk agribisnis. Motifnya dengan menggembar-gemborkan tingginya permintaan dari suatu komoditas sehingga banyak investor yang akhirnya memproduksi komoditas tersebut. Pasar semu tersebut baru terbaca ketika produsen hendak memasarkan hasil produksinya. Karena jalur pemasaran yang sulit terbaca oleh produsen akhirnya produsen menyerahkan pemasarannya kepada tengkulak. Dengan alasan pasar yang jenuh (padahal tidak juga), akhirnya tengkulak dengan mudah menurunkan harga.

Untuk menghindari pasar semu ini mungkin perlu dilakukan terlebih dahulu kajian terutama kajian pasar agar tidak terjebak kepada pasar semu yang menjanjikan mimpi-mimpi bombastis. Selain itu juga perlu dukungan dari pemerintah yang membeberkan data-data sebenarnya mengenai potensi dari suatu komoditas agribisnis agar dapat membantu petani ataupun investor untuk mengatur produksinya. Jika pemerintah hanya mengandalkan artikel-artikel dari majalah atau koran tanpa ada riset lebih lanjut dari tim untuk membaca pasar, maka tidak ada bedanya para pembuat kebijakan diatas dengan para tengkulak yang hanya ingin menguntungkan dirinya sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Perikanan, Pertanian, Pikiran Kotor dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s