Realita Sosial Diatas KRL (Bag 2)


Jika kita melihat di sekeliling kita, baik itu dilingkungan tempat kita tinggal, di tempat kita bekerja, dan di perjalanan dari rumah menuju tempat kerja ataupun sebaliknya. Banyak sekali aturan-aturan yang ditetapkan, baik itu oleh orang yang lebih tinggi posisinya, ataupun ditetapkan bersama. Sebagai orang Islam juga tentunya kita punya aturan yang sudah ditetapkan oleh yang maha tinggi. Aturan-aturan tersebut dibuat untuk membuat kehidupan kita sebagai manusia beradab menjadi lebih baik, terarah dan tidak seperti kehidupan kaum primitif di jaman purba dulu.

Namun seringkali kita mendengar, “aturan itu dibuat untuk dilanggar”. Bah! Siapa yang bilang ini (saya juga pernah sih sekali-kali bilang ini). Jika kita lihat banyak sekali orang-orang melanggar peraturan yang sudah dibuat. Ada yang karena terpaksa dan ada juga yang karena merasa bangga karena telah melanggar aturan.

Begitu pula di dalam perkeretaapian, di KRL Jabodetabek ada banyak sekali contoh yang bisa diambil dari pelanggaran peraturan-peraturan. Tanpa bermaksud merasa menjadi orang yang paling sempurna (ngeles…), saya bermaksud mengkaji sedikit dari pelanggaran-pelanggaran tersebut, mungkin kita bisa mengambil bagaimana baik dan buruknya serta bagaimana solusi untuk mengatasinya yang akhirnya mungkin bisa diambil hikmahnya.

Naik di atap gerbong kereta misalnya. Memang penyelenggara angkutan KRL Jabodetabek (entah PT Commuter, atau PT. KAI, atau apalah) sudah menghimbau dan bahkan melarang para penumpang KRL untuk naik diatap gerbong kereta. Tapi sebagian penumpang tetap saja naik diatap gerbong. Padahal aturan pelarangan naik diatas atap tersebut dibuat untuk kemanan para penumpang sendiri. Bayangkan kalau penumpang jatuh dari atap kereta yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi (jangan dibayangin deh, ngeri…).

Banyak penumpang yang melakukan hal tersebut karena bangga dapat melanggar peraturan tersebut. Namun banyak juga yang merasa terpaksa melakukan hal tersebut. Kondisi didalam gerbong yang panas dan sesak membuat mereka memilih naik diatap gerbong yang memiliki suplai AC (angin cepoi-cepoi) tidak terbatas. Belum lagi ancaman copet yang selalu mengintai. Sebagian penumpang lebih memilih diatas daripada dompet dan HP raib menjadi korban kesaktian tukang copet di kereta.

Berbagai macam cara dan razia sering dilakukan oleh penyelenggara angkutan KRL Jabodetabek agar para penumpang tidak naik diatap gerbong kereta, namun penumpang banyak yang membandel dan kadang melakukan perlawanan, terutama penumpang yang merasa terpaksa naik diatap gerbong.

Pernah suatu hari saya baru turun dari KRL ekonomi di stasiun Pasar Minggu. KRL ekonomi yang saya naiki waktu itu KRL yang hanya 1 set (hanya ada 4 gerbong, biasanya ada 2 set jadi 8 gerbong). Karena hanya 1 set pastilah penumpang berjejalan didalam kereta dan pasti banyak yang duduk diatap kereta. Saya turun dengan berpeluh keringat (yang entah keringat siapa saja itu) berjalan keluar stasiun. Berlawanan arah dengan saya ada seorang ibu-ibu yang berlari takut ketinggalan kereta.

Melihat ibu-ibu itu berlari seorang petugas (satpam, polsuska, atau apalah) berteriak “Cuma 1 set bu, percuma…!”. Mendengar petugas tersebut berteriak, seorang penumpang yang telah turun bersama saya tadi membentak-bentak si petugas. “Cuma 1 set tapi ga boleh naik diatap, gimana sih?!”. Memang kereta 2 set saja tidak cukup menampung penumpang, apalagi 1 set.

Petugas penjaga baik itu satpam, polsuska, dan lainnya juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat banyak orang naik diatap (apalagi waktu kereta hanya 1 set). Sering terjadi bentrok antara petugas dan penumpang karena permasalahan naik diatap gerbong ini. Petugas penjaga juga sebenarnya korban dari kebijakan pembuat peraturan yang membuat peraturan tapi tidak memandang keadaan. Mereka dibayar kecil namun dengan resiko dan tanggung jawab yang besar.

Maka dari itu sering ada juga petugas yang melanggar peraturan. Saya pernah salah naik kereta yang saya tidak tau harus menyebut ini pelanggaran yang saya buat atau ga sengaja. Waktu itu saya mau pulang ke Bogor dari stasiun Manggarai dan membeli tiket ekonomi AC. Didalam stasiun saya melihat ada kereta ber AC yang saya kira itu kereta ekonomi AC. Ternyata itu adalah kereta ekspress yang hendak pulang ke depo depok yang seharusnya kereta itu tidak dinaiki penumpang satupun. Tapi didalam kereta banyak penumpang yang naik (masih bisa dibilang kosong juga sih soalnya ga seberapa yang naik). Ternyata di setiap gerbong ada “koordinator” yang menarik uang dari penumpang yang naik tadi sebesar Rp. 2000 per orang untuk disetorkan kepada “oknum” kondektur yang lewat.

Wah sama saja kalau begitu. Penumpang dan petugas sama-sama melanggar peraturan. Mungkin karena yang membuat peraturannya juga melanggar peraturan ya…?

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Pikiran Kotor dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s