Realita Sosial Diatas KRL (Bag 1)


Dari Bogor menuju Jakarta ada beberapa jalur dan cara perjalanan. Baik itu menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi yang lewat jalan tol atau jalan biasa, ataupun menggunakan kereta api Jabodetabek. Menggunakan kendaraan umum seperti bis atau menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil harus siap dan menerima dengan kondisi perjalanan yang macet, karena banyak orang dari pinggiran ibukota berjalan pada waktu yang sama menuju ke Jakarta pada pagi hari (termasuk saya). Bayangkan, penduduk Jakarta menurut sensus tahun 2010 berjumlah 9.588.198 jiwa. Jika siang hari jumlah tersebut akan bertambah seiring berdatangannya orang-orang dari sejumlah kota penyangga di pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Belum lagi pertambahan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi dengan pertambahan jalan. Data yang saya peroleh dari Polisi menyatakan bahwa pada tahun 2010 jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 11.362.396 unit kendaraan. Terdiri dari 8.244.346 unit kendaraan roda dua dan 3.118.050 unit kendaraan roda empat. Bahkan konon kabarnya pada tahun 2011 akan ada sebanyak 700 ribu kendaraan yang akan dipasarkan sehingga total jumlah kendaraan akan menjadi 12 juta kendaraan. Wah, tambah macet kayaknya Jakarta.

Alternatif lain menuju Jakarta adalah menggunakan KRL atau Kereta Rel Listrik. Kereta api ini melayani untuk menghubungkan berbagai rute dari kota-kota di keliling Jakarta seperti Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi menuju ke Jakarta. KRL Jabotabek sudah beroperasi sejak tahun 1976. Saya sendiri termasuk salah satu pengguna KRL dari Bogor menuju Jakarta. Sudah 10 tahun saya tinggal di Bogor tapi baru 5 tahun saya menggunakan jasa kereta api ini setelah mengetahui ternyata waktu yang dihabiskan lebih sedikit jika harus menggunakan kendaraan umum bis atau kendaraan pribadi.

Saat tulisan ini dibuat, ada tiga jenis yaitu KRL Ekonomi, KRL Ekonomi AC, dan KRL Ekspress. Kabarnya kedepan hanya akan ada dua jenis KRL yaitu ekonomi dan AC. Berbagai macam suka dan duka saya alami waktu saya naik KRL baik itu ekonomi, ekonomi AC, dan ekspress. Waktu saya naik ekspress tentu saja akan terasa nyaman, karena kereta ekspress dilengkapi dengan pendingin udara dan perjalanan akan lebih cepat karena kereta ekspress tidak berhenti di setiap stasiun. Namun dukanya adalah kantong saya kadang lebih cepat menjadi tipis, karena harga karcis yang mahal. KRL ekonomi AC mungkin tidak secepat ekspress tapi masih berpendingin udara, dan yang ini harga karcisnya lebih murah. Tapi yang paling sering saya naiki adalah KRL ekonomi karena ini yang paling murah.

Berbagai realitas kehidupan saya temui diatas KRL. Manusia yang katanya makhluk sosial bisa jadi makhluk asosial yang menghalalkan berbagai macam cara waktu berebut tempat duduk (ga dikereta ga di DPR ya…). Biasanya saya berangkat pagi sekali untuk mengejar kereta ekonomi yang berangkat jam 6 pagi. Waktu jam itu kereta akan datang dari Depo (tempat menyimpan dan perawatan kereta) di Bogor jam 5.30. Saat kereta datang itu langsung banyak orang yang berebut masuk kedalam kereta untuk mendapatkan tempat duduk, bahkan tak sedikit orang yang melompat kedalam kereta saat kereta masih berjalan (saya juga pernah sih sekali-kali). Apalagi waktu kereta datang terlambat, orang-orang yang berebut akan lebih banyak lagi karena orang-orang yang menunggu jumlahnya sudah bertambah.

Apabila ada tempat duduk tersisa maka saya akan duduk. Terasa bedalah kerasnya tempat duduk di kereta ekonomi dengan kereta ekonomi AC atau ekspress yang tempat duduknya empuk berbusa. Dalam perjuangan memperebutkan tempat duduk ini kadang terlihat keegoisan orang-orang. Terbatasnya tempat duduk tentunya akan memaksa beberapa orang yang tidak kebagian untuk berdiri. Sebagian ada yang duduk di pintu kereta api sehingga menghalangi orang yang mau masuk. Sebagian orang lagi akan duduk bergerombol di bagian paling ujung gerbong dan sebagian orang juga membuka bangku lipat yang dibawanya untuk duduk, yang tentunya akan memakan tempat orang lain yang berdiri. Tentunya saat kereta melaju dan melewati stasiun-stasiun berikutnya mereka akhirnya akan mengalah berdiri juga karena penumpang yang kian banyak naik.

Saya pribadi jika saya mendapat tempat duduk diawal, saya akan berikan tempat duduk saya kepada empat golongan (kaya zakat aja ya…) pertama orang yang sudah tua sekali yang tidak kuat berdiri (baik laki-laki atau perempuan). Kedua orang yang membawa anak kecil (baik laki-laki atau perempuan), Ketiga orang yang sedang sakit (baik laki-laki atau perempuan) dan keempat orang yang sedang hamil (kalo yang ini ga mungkin laki-laki). Saya adalah penganut kesetaraan gender sejati. Perempuan harus disamakan dengan laki-laki (jika memang mau). Saya berpendapat tidak akan mengalah memberikan tempat duduk saya kepada perempuan yang kuat untuk bekerja (walau akhirnya saya ga tega juga sih…). Yang sering membuat saya kesal banyak perempuan-perempuan memanfaatkan kepermpuanannya untuk mendapatkan tempat duduk. Pernah suatu saat ada seorang ibu-ibu muda (umurnya sekitar 30-40 an) mengusel-ngusel celah sempit diantara dua penumpang di tempat duduk yang tersisa agar dia bisa duduk. Padahal celah itu kecil sekali. Yang penting duduk kayaknya walaupun sempit-sempitan. Mungkin rasa malunya sudah hilang karena waktu itu ada ibu-ibu yang lebih tua lagi (sekitar 50-60 an tahun) kuat untuk berdiri.

Tidur di dalam kereta yang berjejalan sangat tidak nyaman, meskipun dalam keadaan duduk. Saya sendiri sering tidur di dalam kereta (tentunya waktu dapat tempat duduk). Dengan ketidaknyamanan itu saya hanya bisa bertahan tidur sekitar 4-5 stasiun saja dari total 12 stasiun sampai saya turun (total dari Bogor hingga Jakartakota ada 24 stasiun). Kalau saya lihat disekitar saya ada yang lebih membutuhkan untuk duduk maka saya akan berdiri mempersilahkan untuk gantian duduk. Kalau tidak ada saya akan lanjutkan duduk hingga turun. Tapi ada saja orang yang betah tidur dengan keadaan sempit dan pengap seperti itu. Entah benar-benar tidur atau tidak mau bergantian berdiri saya tidak tahu. Karena solidaritas diatas kereta yang cukup tinggi, apabila ada seseorang yang membutuhkan duduk (seperti perempuan, orang tua, dll) maka orang lain yang berdiri akan membangunkan orang yang tidur tadi untuk memberi tempatnya kepada orang yang lebih membutuhkan tersebut. Tidak jarang orang bilang “kan saya juga bayar!”, untuk dijadikan senjata kalau dia juga berhak untuk duduk. Biasanya orang-orang disekitarnya akan berteriak menyoraki “huuuuu….” ke orang tadi. Untuk menghindari malu yang lebih panjang lagi orang tadi terpaksa berdiri memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan.

Waktu jam pulang di sore hari kebanyakan penumpang akan menuju ke selatan (arah bogor). Mengetahui jika kereta yang lewat di stasiunnya akan sangat penuh sesak, beberapa orang rela berjauh-jauh ikut kereta yang pergi ke utara hanya untuk memperoleh tempat duduk waktu perjalanannya ke selatan berlangsung. Secara tidak langsung hal ini bisa menimbulkan ketidak adilan karena banyak diantara penumpang tadi hanya membeli satu tiket untuk ke selatan saja sedangkan dia juga ikut ke utara (dua kali perjalanan dengan satu tiket).

Bangku lipat mungkin bisa menjadi solusi buat penumpang yang berdiri. Tapi bangku lipat bisa membuat keadaan menjadi tidak nyaman apalagi bagi yang berdiri disebelah orang yang duduk di bangku lipat. Orang yang berdiri sering menahan beban dari segala arah untuk menahan agar tidak terkena orang yang duduk di bangku lipat. Selain itu bangku lipat juga bisa memakan banyak tempat dibandingkan berdiri. Satu luas bidang yang digunakan oleh bangku lipat plus orang yang duduk bisa digunakan untuk berdiri dua orang.

Memang masalah tempat duduk ini masalah yang tidak sederhana diatas KRL. Apa mungkin tempat duduk ditiadakan saja ya…?

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Pikiran Kotor dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s