Realita Sosial Diatas KRL (Bag 3)


Suatu pagi saya seperti hari-hari sebelumnya naik KRL ekonomi biasa. Waktu itu rangkaian kereta hanya 1 set (4 gerbong) dari yang biasanya 2 set (8 gerbong). Waktu saat itu menunjukkan jam 5.40 tapi isi gerbong sudah mulai penuh. Karena tidak ada lagi tempat untuk duduk terpaksa saya mengambil posisi berdiri yang nyaman dekat pintu (biar ga susah keluar setelah penumpang makin banyak nanti). Di sebelah saya berdiri dua orang laki-laki, yang satu umurnya sudah agak tua (sekitar 35 tahunan) dan yang satu lebih muda (sekitar 17-18 tahun). Dari logatnya bisa dilihat mereka berasal dari suku Jawa. Dari obrolan yang mereka lakukan (nguping sedikit…) ternyata hubungan mereka adalah paman dan keponakan. Si paman rupanya baru membawa si keponakan dari kampung untuk ikut bekerja di Jakarta. Karena si paman tinggal di Bogor, alhasil mereka harus juga ikut seperti komunitas komuter lainnya setiap hari.

Si keponakan ternyata baru saat itu naik KRL Jabodetabek. Dengan penuh rasa ingin tahu dia melihat-lihat sekelilingnya, baik itu kondisi keretanya, orang-orangnya, barang yang dibawa dan mungkin semua yang bisa ditangkap oleh matanya. Lalu tertujulah pandangannya kepada kereta yang ada di sebelah kereta yang dia naiki. Sebuah kereta ekspres Bogor-Tanah abang sedang bertengger di relnya menunggu jam keberangkatan. Melihat itu dia bertanya kepada pamannya.

“Lik” (Paklik, panggilan untuk paman dalam bahasa jawa), “itu kereta kemana lik?”.
Lalu si paman menjawab, “sama itu ke Jakarta juga, tapi mahal kalo naik yang itu” si paman menjawab dengan logat yang sudah tercampur antara logat jawa, sunda, dan betawi.
“kalo naik itu, kan ada AC nya, terus sampenya juga lebih cepet soalnya ga berhenti di setiap stasiun” si paman melanjutkan penjelasannya.
“ko keretanya beda ya?” si keponakan kembali bertanya.
“itu kereta dari jepang” jawab si paman.
“Baru lik?”
“engga, itu bekas” jawab si paman kembali.
“bekas lik?!” si keponakan bertanya lagi dengan nada agak terkejut.
“iya bekas. Hebat ya, bekasnya Jepang aja bagusnya kaya gini ya” jawab si paman dengan nada bangga (entah bangga sama apa).

Memang bisa dilihat perbedaan antara negara yang sudah maju dan yang belum maju dari KRL. Jika dilihat, memang KRL ekspress atau KRL ekonomi AC yang menggunakan kereta bekas dari Jepang yang diimpor ke Indonesia. Namun bisa dilihat meskipun kereta bekas, kondisi kereta tersebut masih dalam keadaan yang sangat bagus.

Tapi apakah memang sudah sifat kita yang bangga akan produk impor (seperti si paman tadi). Jika kita melihat-lihat rangkaian KRL ekspress atau KRL ekonomi AC yang menggunakan kereta bekas dari Jepang, sering terlihat masih ada tulisan-tuliasan dalam aksara Jepang yang masih menempel di badan KRL. Sebenarnya tulisan-tulisan itu mungkin berguna waktu di Jepang sebagai media penyampaian informasi atau aturan-aturan lain dalam KRL. Namn setelah tiba di Indonesia tulisan-tulisan tersebut sudah tidak berguna lagi karena tidak ada yang mengerti tulisan tersebut. Meskipun begitu tulisan-tulisan tersebut tidak dicopot melainkan tetap dipasang ditempatnya. Mungkin untuk berbangga-bangga kalau kita bisa mengimpor kereta dari jepang (padahal bekas, bekas aja bangga apalagi baru, sombong kali!).

Di luar kereta sering terdapat tulisan digital (tulisan dari lampu-lampu yang bisa menyala) dengan aksara Jepang dan Inggris yang menandakan kondisi kereta. Lucunya ada di salah satu kereta yang bunyi tulisan bahasa Inggrisnya “not in use” atau makna dalam bahasa Indonesianya kereta tidak dapat dipergunakan. Tapi mungkin karena rasa bangganya tadi kepada barang bekas impor, tulisan tersebut (aksara Jepang dan Inggris) tetap dinyalakan, padahal kereta dalam kondisi baik-baik saja dan dapat mengangkut penumpang.

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Pikiran Kotor dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s