Pasar Rakyat Kapitalis Bernama PRJ


Beberapa hari yang lalu saya dan keluarga berkunjung ke PRJ (Pekan Raya Jakarta) atau singkatnya Jakarta Fair di Kemayoran. Ini kali ketiganya aya (anak saya) berkunjung ke PRJ semenjak dia berusia lebih dari satu tahun (anak saya sekarang umurnya 3 tahun, berarti tiap tahun ke PRJ). Tujuannya sih Cuma satu, jalan-jalan dan nyari hiburan.

Saya teringat waktu saya kecil dulu. Waktu itu PRJ masih di kawasan monas. Memang PRJ atau Jakarta Fair awalnya diadakan di kawasan monas. Menurut sejarah, awalnya pertama kali PRJ diadakan tanggal 5 Juni hingga 20 Juli tahun 1968 dan dibuka oleh Presiden Soeharto. PRJ pertama ini disebut DF yang merupakan singkatan dari Djakarta Fair (Ejaan Lama). Lambat laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih popular dengan sebutan Pekan Raya Jakarta. Ide PRJ ini digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1967. Gagasan atau ide ini, karena Pemerintah DKI waktu itu ingin membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama. Pemerintah DKI waktu itu juga ingin menyatukan berbagai “pasar malam” yang ketika itu masih menyebar di sejumlah wilayah Jakarta . Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di bekas Lapangan Ikada (kini kawasan Monas) untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, juga merupakan inspirasi dari pameran yang diklaim sebagai pameran terbesar ini.
Agar lebih resmi, Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni. Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta juga dibentuk sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda no. 8/1968 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara Arena promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.
PRJ 1968 atau DF 68 (Djakarta Fair 1968) berlangsung mulus dan boleh dikatakan sukses. Mega perhelatan ini mampu menyedot pengunjung tidak kurang dari 1,4 juta orang.
Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekedar pasar malam, “bermutasi” menjadi ajang pameran modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektar di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektar.

Sejatinya PRJ merupakan pesta rakyat untuk merayakan ulang tahun kotanya tercinta, dimana pada saat itu rakyat tidak peduli dari golongan mana ikut bergembira merayakannya. Namun yang saya rasakan sekarang, kesan merakyat dari PRJ sudah tidak ada lagi berganti dengan kesan Kapitalis yang dibungkus pesta rakyat. Pengelola PRJ yang dulu katanya berbentuk yayasan (tujuannya tidak mencari keuntungan) sekarang dikelola oleh PT. Jakarta International Expo (yang tujuannya mencari keuntungan). Alhasil semua yang tidak menguntungkan di PRJ dihilangkan agar tidak rugi. Kondisi seperti ini saya sadari ketika pulang dan memeriksa dompet yang menjadi lebih tipis.

Seorang rakyat yang ingin menikmati hiburan di PRJ harus membayar Rp. 25ribu per orang. Saya harus mengeluarkan uang Rp. 50.000 untuk masuk saya dan istri saya. Anak saya kemarin belum bayar karena tingginya masih dibawah batas, tahun depan pasti anak saya sudah harus bayar. Rakyat miskin yang biaya makannya Rp. 20.000 sehari harus menunda makannya dua hari untuk bisa masuk ke PRJ.

PRJ 2011 yang setiap tahunnya digelar untuk menyambut HUT Jakarta ke 484 terkesan hanya merupakan kegiatan bisnis semata. Tanpa ada ruang bagi rakyat ibukota untuk ikut menikmati kemeriahan perayaan HUT Jakarta. Sebabnya, semua kegiatan disertai dengan biaya tinggi untuk kalangan rakyat yang kurang mampu.

Kesan pesta rakyat juga sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanya pameran-pameran dan jualan-jualan yang mahal. Dengan strategi marketing dari para ahli marketing di perusahaan-perusahaan yang ikut di PRJ, maka keuntungan berlipat-lipat dengan mudah direngguk oleh para kapitalis. Pengunjung seakan tidak sadar dan terhipnotis akan kegiatan pengurasan isi dompet yang dibungkus pesta rakyat tersebut. Pengunjung yang lain atau bahkan saya sendiri awalnya terkecoh juga dengan kupon di tiket masuk yang dapat ditukarkan dengan beberapa produk. Dengan adanya kupon tersebut produk yang dijual jadi terkesan murah, padahal sama saja.

Gadis-gadis cantik dan mulus sengaja dipajang di depan stand-stand perusahaan-perusahaan besar untuk menarik pengunjung. Padahal kadang pemajangan gadis-gadis tersebut tidak ada hubungannya dengan produk yang dijual. Mungkin yang penting menarik dulu, nyambung ga nyambung belakangan.

Bahkan dari pengalaman saya kesan ulang tahun Jakarta bahkan tidak terasa lagi berganti pameran-pameran bisnis produk-produk komersial yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jakarta. Bahkan beberapa tahun lalu sangat sulit dijumpai kerak telor (makanan khas jakarta) di PRJ. Baru tahun ini saya rasakan banyak penjual kerak telor didalam arena PRJ, mungkin karena kritik yang banyak dilayangkan juga. Itu juga mengkin harganya akan selangit, karena pasti tukang kerak telor yang ada didalam arena PRJ dikenakan biaya yang tinggi (Saya sampe ga berani beli didalam, mending beli yang dipinggir jalan).

Saya juga harus mengeluarkan uang banyak untuk anak saya main odong-odong dan permainan lainnya di PRJ. Pokoknya semua yang ada di PRJ itu murni untuk kepentingan bisnis para kaum kapitalis. Tidak ada lagi ruang untuk rakyat kecil.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s