Nasib petani lele


Ikan lele merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Setidaknya begitulah yang banyak diucapkan oleh banyak penulis yang menulis tentang ikan lele. memang ikan lele merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain membudidayakannya mudah, ikan ini juga dikenal sebagai ikan yang tahan banting karena dapat bertahan dalam kondisi media pemeliharaan yang buruk. Kasarnya, ikan lele dipelihara di comberan atau di septic tank saja bisa hidup dan besar.

Kebutuhan ikan lele sangat tinggi. Untuk wilayah Jabodetabek saja membutuhkan 100 ton ikan lele setiap harinya. Oleh sebab itu belakangan ini banyak sekali orang-orang yang baru terjun ke dunia perlelean karena melihat peluang yang ditawarkan oleh usaha berbudidaya ikan lele ini. Banyak pensiunan PNS atau Pegawai BUMN dan Swasta yang tertarik beralih menjadi petani lele. banyak juga karyawan yang masih aktif meninggalkan pekerjaannya untuk jadi petani lele atau sekedar untuk sampingan saja karena melihat peluang yang ditawarkan dari budidaya ikan lele ini. Namun apakah angka 100 ton perhari itu sudah tercukupi? Belum ada data resmi yang bisa dijadikan referensi. Kabarnya, belum semua kebutuhan ikan lele terpenuhi. Masih banyak kebutuhan yang dapat dipasok oleh petani-petani baru ikan lele.

Pasar ikan lele meskipun dalam angka terlihat sangat besar namun dalam prakteknya sulit sekali untuk masuk kedalam pasar tersebut. Memang pasar ikan lele termasuk pasar persaingan sempurna dimana semua orang bisa masuk kedalamnya. Namun di kehidupan sehari-hari, pasar ikan lele tertutup dan sudah dikuasai oleh pengumpul-pengumpul. Oleh sebab itu meskipun peluang yang ditawarkan sangat besar, jika kita tidak bisa menjual langsung tentunya kita akan harus berhubungan dengan pengumpul untuk menjual hasil panen yang kita hasilkan.

Seringkali para pengumpul mengakali pembudidaya ikan lele karena uniknya sifat agribisnis dari ikan lele tersebut (lihat Masalah dalam Budidaya Lele). Untuk itu teknologi budidaya yang canggih sehingga bisa menciptakan efisiensi dan kemampuan untuk memperoleh faktor produksi dengan harga murah tidak akan banyak berpengaruh jika dalam penjualan hasil panen selalu berurusan dengan pengumpul yang selalu mengakali.

Sebagai pembudidaya ikan / petani kadang memang tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Perlu dilakukan sebuah gerakan persatuan antara petani-petani yang memiliki nasib yang sama. Dengan bersatunya petani-petani maka berbagai masalah yang ditemui dalam budidaya dapat diatasi bersama-sama. Dengan bersatunya petani lele maka dapat dibuat suatu gerakan ekonomi yang dapat menekan ke segala arah termasuk ke pengumpul. Disini petani lele dapat memiliki suatu posisi tawar yang kuat sehingga bisa menjual ikan lelenya dengan harga lebih tinggi baik ke pengumpul atau mungkin bisa langsung menembus pasar tanpa lewat pengumpul. Bentuk Kelompok Tani atau Koperasi bisa digunakan untuk media bersatunya para petani ikan lele ini untuk menjamin pasar. Mungkin ada ide lain…???

Pos ini dipublikasikan di Perikanan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s