Pengalaman Mengunjungi Negeri Singa


Beberapa waktu yang lalu, saya beserta rombongan dari kantor mengunjungi singapura untuk melakukan survey sayur-sayuran Indonesia yang masuk ke pasar-pasar di Singapura. Mengunjungi negara singa kali ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena inilah saat pertama saya mengunjungi negara Singapura.

Perjalanan menuju Singapura saya tempuh lewat Batam, menyebrang kapal pinguin ferry. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari pelabuhan Batam Centre Batam menuju pelabuhan Harbourfront Singapura. Sebelum kapal merapat ditengah laut kapal yang kami tumpangi dicegat oleh polisi perbatasan Singapura untuk mengecek isi kapal. Berbeda sekali polisi Singapura dengan Polisi Indonesia. Polisi yang mengecek kapal kami berpenampilan menarik dan tidak terkesan seram, sampai salah seorang teman wanita saya bilang polisi Singapura kece-kece ya. Bandingkan dengan polisi Indonesia yang berpenampilan sangar dengan kumis melintang bagaikan pak raden. Setelah kapal diperiksa, maka ferry melanjutkan perjalanan hingga pelabuhan Harbourfront.

Menuju Harbourfront kapal kami melewati Sentosa Island, sebuah pulau tempat wisata di Singapura. Selama ini saya hanya mendengar saja tentang pulau ini, dan sekarang saya melihatnya secara langsung (walaupun ga kesana dan cuma dari depannya). Ada pemandangan yang menarik bagi saya, yaitu penghubung antara daratan utama Sigapura dan Sentosa Island. Kereta gantung menghubungakan antara kedua pulau tersebut, dan hebatnya kereta gantungnya menembus salah satu gedung yang ada di daratan utama Singapura. Beberapa tiang yang tingginya entah berapa puluh meter menyangga kabel-kabel tempat kereta gantung tersebut menggantung, yang pasti lebih tinggi dari kereta gantung yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan bagi saya saat itu, namun saya tetap menahan kekaguman saya agar tidak dibilang norak. Selain itu saat saya berjalan dari kapal menuju imigrasi terlihat kereta monorail lewat dari Sentosa Island menuju daratan utama Singapura, yang tentunya tidak ada orang yang menumpang di atap monorail tersebut seperti yang terjadi di Jakarta.

Didalam pelabuhan kami mengantri dengan antrian yang lumayan sangat panjang karena waktu itu hari minggu mungkin banyak orang yang dari Indonesia ingin berwisata ke Singapura. Akhirnya sampailah giliran saya diperiksa petugas imigrasi Singapura. Petugas imigrasi yang menangani saya untungnya orang melayu jadi agak sedikit-sedikit nyambunglah bahasanya. “You nak pergi mane?” dia bilang dengan logat melayu bercampur Inggrisnya (selanjutnya dalam tulisan ini percakapan kami akan diteruskan dalam bahasa Indonesia, karena ribet). Terus saya jawab “pasir panjang”, karena memang tujuan saya waktu itu adalah ke Pasir Panjang Wholesale, pasar induk sayur dan buah-buahan di Singapura. “mau apa ke pasir panjang?”, trus saya jawab ”mau survey”. Dibalas lagi sama dia “survey apa?”, “survey sayur dan buah-buahan asal Indonesia”. Dia agak sedikit ketawa, “kamu baru pertama ke Singapura cuma mau ke pasir panjang? Kenapa ga ke orchard atau belanja-belanja?”, saya jawab “ya nanti kalo ada waktu baru jalan-jalan”. Disitu saya berpikir apa mungkin dalam pikiran orang Singapura orang Indonesia ke Singapura Cuma mau jalan-jalan, belanja dan ngabisin duit aja? Memang Singapura selama ini dikenal sebagai tempat jalan-jalan yang lumayan dekat dengan Indonesia, selain itu juga banyak orang Indonesia berobat di Singapura karena pelayanan kesehatannya yang lengkap. Atau jangan-jangan orang Singapura malah berpikir orang Indonesia ke Singapura untuk lari dari kejaran KPK.

Lewat dari imigrasi kami langsung check in lagi untuk pulangnya nanti malam, karena kami memang tidak berencana untuk nginap disana. Setelah check in, kami keluar dari wilayah administrasi pelabuhan. Masih satu gedung dengan tempat pelayaran ternyata ada pusat perbelanjaan yang besar bernama Harbourfront Center. Lagi-lagi saya membandingkan dengan dengan keadaan di Indonesia. Saya bandingkan jauh sekali pelabuhan ini dengan pelabuhan Bakauheni Lampung dimana turun dari kapal selalu dicegat oleh pedagang asongan dan calo-calo bus atau travel yang menawarkan jasanya dengan muka sangar dan agak sedikit memaksa. Di pelabuhan Harbourfront tidak ada calo-calo berkeliaran, yang ada orang-orang pengunjung pusat perbelanjaan yang asik sendiri melihat-lihat barang-barang yang dipajang. Tidak jauh bedanya dengan mall-mall yang ada di Jakarta, hanya bedanya mall kali ini adanya di pelabuhan. Baru kali ini saya melihat pelabuhan yang dipadukan dengan pusat perbelanjaan, suatu konsep yang sangat bagus apabila juga diterapkan di Indonesia, tentunya jika pelabuhan sudah bebas dari calo dan preman (entah kapan…).

Menuju pasir panjang kami menggunakan taxi yang sudah tersedia di pelabuhan, lagi-lagi tanpa calo. Dalam perjalanan menuju pasir panjang, saya melihat HP saya sinyalnya dalam keadaan SOS, tentu saja karena HP saya pake operator Indonesia yang tidak bisa digunakan di Singapura (atau bisa tapi saya tidak tau caranya). Di jalan saya melihat sebuah pemandangan yang hanya saya temui di Jakarta ketika libur Idul Fitri. Kondisi jalan disana sangat lengang tidak bermacet-macet ria seperti di Jakarta. Sekilas bentuk jalannya seperti jalan by pass Ahmad Yani di Jakarta. Bus-bus disana juga teratur, hanya berhenti di halte pemberhentian saja. Satu hal lagi yang sangat berbeda dengan Jakarta, saya hanya sedikit melihat sepeda motor. Sepanjang perjalanan saya hanya melihat dua sepeda motor, itu juga sepeda motor matic yang bagus yang kira-kira di Jakarta harganya sekitar 25 juta. Biaya taxi dari pelabuhan menuju pasir panjang 6 SGD, setara dengan Rp. 50.000. Ongkos yang standard dengan ongkos taxi di Indonesia dengan jarak yang sama.

Tiba di pasir panjang, saya melihat pasar induk disana sangat bersih, berbeda dengan pasar induk di Jakarta. Entah apa karena saat itu sudah sore dan hujan makanya terlihat sepi. Tetapi waktu itu saya melihat air hujan yang turun dari atap kios-kios yang ada disana sama sekali tidak menggenang, cepat sekali mengalirnya hingga kering, padahal tidak kelihatan miring sama sekali. Sebelum survey kami makan siang dengan menu masakan padang. Jauh-jauh ke Singapura makannya masakan padang juga. Biarlah, yang penting pasti kehalalannya. Soalnya disekitarnya ada masakan-masakan china yang mungkin belum jelas kehalalannya. Untung ada…

Setelah makan kami mulai survey untuk mengetahui sayur-sayuran Indonesia apa saja yang ada disana, sementara yang lain menunggu di tempat makan. Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan saya mulai bertanya-tanya ke penjual-penjual disana yang rata-rata dari etnis tionghoa. Kadang ada pedagang yang bisa bahasa melayu dan diapun akan menjawab dengan bahasa melayu jadi saya tidak perlu repot berbahasa Inggris. Sampai akhirnya kami bertemu dengan seorang pedagang dari etnis melayu yang berasal dari Malaysia. Dari dia kami mendapat banyak sekali informasi bahwa disana sudah jarang sekali ditemukan sayuran Indonesia karena sayuran Indonesia kalah murah dan kalah bagus dibandingkan sayuran dari China dan Malaysia. Bahkan disana saya juga menemukan adanya sayuran dari Belanda dan USA yang jauh lebih jauh dari Indonesia tapi bisa masuk kesana. Kami merasa terbantu sekali dengan orang Malaysia yang memberi banyak informasi tadi. Saya berpikir mungkin karena merasa satu rumpun makanya dia banyak sekali memberi informasi dibandingkan pedagang etnis tionghoa. Padahal di Indonesia orang Malaysia seringkali menjadi bulan-bulanan dan pasti jelek. Saya jadi merasa bersalah…

Akhirnya surveypun disudahi dan kitapun bersiap-siap untuk menuju pelabuhan lagi. Keluar dari Pasar Induk Pasir Panjang kami bermaksud mencari lagi taxi. Namun ternyata tidak semudah memberhentikan taxi di Jakarta. Disana memberhentikan taxi harus di tempat pemberhentian taxi sendiri, jadi semacam halte untuk taxi. Jadilah akhirnya kami harus berjalan agak jauh untuk mencapai tempat pemberhentian taxi. Disini ternyata bisa diperoleh fakta, bahwa orang Indonesia termasuk saya sendiri jika dikenakan peraturan yang ketat bisa menaatinya juga. Disana kami semua mendadak jadi disiplin (soalnya sebelum tiba di Singapura kami mendapat informasi dari bos yang pernah kesana bahwa di Singapura peraturan sangatlah ketat, buang sampah sembarangan saja bisa didenda). Kami menyebrang jalan setelah lampu menunjukkan warna merah, walaupun jalanan saat itu sedang sepi. Disini saya kembali berpikir, jika di Indonesia peraturan benar-benar ditegakkan, maka tidak mustahil semua orang Indonesia akan disiplin. Tentunya jika aparatnya juga disiplin.

Lucunya di suatu lampu merah kami lama sekali menunggu kenapa lampu lalu lintas tidak juga berubah menjadi merah dan lampu penyebrangan jadi hijau. Sudah lama menunggu ada seorang Singapura yang datang dan dia langsung menekan tombol yang ada di tiang lampu merah. Seketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan lampu penyebrangan berubah menajdi hijau. Walah… dasar orang Indonesia norak semua. Padahal di Indonesia ada juga fasilitas seperti itu, tapi jarang digunakan sehingga orang tidak mengetahui dan akhirnya fasilitas tersebut rusak dimakan usia.

Berbeda dengan di Jakarta yang mana sebelum lampu berubah jadi hijaupun motor-motor dan beberapa mobil (yang mungkin mereka memiliki kemampuan meramal kapan lampu akan berubah menjadi hijau) sudah mendahului garis batas berhenti kendaraan, di Singapura tidak terlihat seperti itu. Entah lampu lalu lintasnya belum hijau saat kita menyebrang atau mereka menunggu kita selesai menyebrang. Yang pasti berjalan kaki disana sangat nyaman meskipun jaraknya jauh.

Satu lagi yang saya salut dengan orang-orang sana yaitu saat saya menyeberang di jalan kecil yang tidak ada lampu penyeberangannya (jalan mobil yang belok kiri boleh langsung), orang-orang yang naik mobil seperti sudah terbiasa, mengalah untuk memberikan jalan kepada kami pejalan kaki yang menyeberang. Tidak seperti di Indonesia yang berlaku sistem dulu-duluan dan kalo bisa pepet kiri pepet kanan tidak memberi jalan ke orang lain.

Kembali ke pelabuhan kami lalu mencari tempat sholat untuk menjamak dzuhur dan ashar. Sangat sulit mencari tempat sholat di negeri yang mana muslim bukan menajdi mayoritas. Tidak ada musholla di Harbourfront Center. Di Indonesia yang mayoritas warganya beragama muslim saja musholla kadang tempatnya sangat kecil dan berada di basement, apalagi di Singapura. Untuk tempat sholat ada masjid yang jaraknya sekitar 1 km dari harbourfront center.

Setelah sholat kami melanjutkan survey ke pasar swalayan yang ada di harbourfront center, sementara yang lain sibuk berbelanja. Disitu tetap saja tidak ditemukan sayuran dari Indonesia. Bahkan petai saja dari Malaysia. Selesai survey tiba waktunya untuk jalan-jalan. Karena waktu itu hujan dan saya juga tidak tau jalan, jadilah jalan-jalannya hanya di harbourfront center. Sebenarnya saya ingin sekali ke patung singa (merlion) dan foto-foto disitu. Tapi karena tidak tau jalan dan hujan akhirnya saya mengurungkan niat itu. Padahal belum sah ke Singapura kalau tidak foto di patung merlion.

Tidak ada yang spesial disitu, sama seperti jalan-jalan di mall taman anggrek. Barang-barang yang dijual juga tidak ada yang unik dan tidak ada bedanya dengan yang dijual di Jakarta. Di harboufront center juga ada stasiun subway. Saya ingin juga mencoba naik subway tapi takut waktunya ga cukup karena beberapa jam lagi kami harus berllayar kembali ke Batam. Tidak apalah, namanya juga baru pertama ke negeri singa, nanti apabila kesini lagi saya harus ke merlion dan naik subway.

Tiba saatnya kami harus kembali ke tanah air. Masuk ke kapal ferry, terlihat kembang api yang menyala-nyala dari Sentosa Island yang bersebrangan dengan pelabuhan. Didalam kapal sambil menatap kearah lautan Selat Singapura, dalam hati saya bertanya-tanya, negara yang jaraknya hanya satu jam perjalanan kok bisa berbeda 180 derajat dari Indonesia. Sayapun berdoa memohon kepada Allah agar negara Indonesia diberi keberkahan dalam semua segi baik itu kekayaan, kedisiplinan, dan semua yang baik-baik. Tidak muluk-muluk minimal lebih baik dari sekarang, tidak perlulah dulu lebih baik atau sama seperti negeri singa.

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pengalaman Mengunjungi Negeri Singa

  1. Brigadir berkata:

    Selamat ya Bro udah bisa jalan-jalan keluar negeri.
    Ngurusi Indonesia Yg begitu luas tentu sangat sulit bro apalagi orang-orang kita sangat susah diatur mungkin dari faktor pendidikan juga, tentu berbeda dengan Singapura yg Negaranya sangat kecil, kalau dilihat di peta hampir gak kelihatan pulaunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s