Drama Dari Masa Lalu


“Pejamkan matamu dan cobalah untuk rileks, ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan. Konsentrasikan pikiranmu pada nafasmu. Setiap hembusan nafasmu kamu akan semakin rileks. Bayangkan cahaya putih yang ada di sekelilingmu. Fokus pada cahaya itu seakan-akan cahaya itu menembus tubuhmu. Ijinkan dirimu untuk masuk semakin dalam kedalam alam pikiranmu yang tenang. Ketika saya menghitung mundur dari 10 ke satu, kamu akan tambah merasa damai. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, kamu akan masuk ke dalam tempat yang aman dimana tidak seorangpun dapat melukaimu, lima, empat, tiga, dua, kapan saja kamu ingin kembali, yang tinggal kamu lakukan hanyalah membuka matamu, satu…”

Perlahan-lahan suara hypnoterapist terdengar sangat damai didalam kepala Nicholas. Perlahan-lahan pula seakan-akan dia berpindah dari tempatnya sekarang menuju suatu tempat baru dimana dia sebelumnya sudah pernah menuju. Keadaan tempat dan waktu sekelilingnya seakan-akan berubah. Rasanya seperti mundur ke berpuluh-puluh tahun yang lalu. Alam bawah sadarnyapun kembali bersatu dengan masa lalu untuk kesekian kalinya. Semuanya semakin terlihat nyata dalam pengelihatannya yang semakin jelas. Didalam ketenangannya itu Nicholas kembali melihat sesosok wanita yang selama ini ditemui dalam setiap mimpi di tidurnya.

Wanita itu kembali tersenyum kepada Nicholas. Senyum manis yang sama seperti senyum-senyum yang telah diberikan sebelumnya di mimpi-mimpi Nicholas selama beberapa malam ini. Sensasi seperti ini yang dirasakan oleh Nicholas selama beberapa malam didalam tidurnya. Setiap mimpi dalam tidurnya selalu dihampiri oleh sesosok wanita cantik yang bernama Victoria ini. Entah ini merupakan mimpi indah atau mimpi buruk. Senyum misterius Victoria yang dingin kadang menakutkan namun membuat rindu. Kehadiran Victoria juga sering tidak selesai. Entah siapa wanita itu dan apa maksudnya datang ke dalam mimpinya Nicholas tidak tau.

Dalam alam bawah sadarnya Nicholas bertemu Victoria di sebuah rumah dengan jalan setapak menuju ke rumah utamanya. Perasaan dingin di sekeliling tubuhnya dirasakan ketika menuju rumah itu. Dalam ingatannya Nicholas seakan-akan pernah melihat rumah ini di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Sebuah rumah tua yang menyimpan misteri. Nicholas lalu masuk dan menaiki tangga didalam rumah itu. Diujung tangga terdapatlah suatu kamar dimana Victoria sering terlihat. Victoria terlihat berhadapan dengan cermin di sudut kamarnya sambil tersenyum memandang dirinya sendiri ketika Nicholas datang. Tidak seperti malam-malam sebelumnya dimana Nicholas hanya terpaku kepada senyum manis misterius seorang Victoria, akhirnya Nicholas memberanikan diri untuk bertanya “dimana saya, dan sedang apa saya disini?”.

Tatapan mata Victoria seakan-akan ingin mengatakan sesuatu yang belum pernah dia ceritakan kepada siapapun selama ini. Dalam dirinya yang tertutup selama ini, ternyata ada kesedihan dalam diri Victoria dan diapun menceritakannya kepada Nicholas.

“malam ini aku mencari-carinya, sebuah perasaan yang ada dalam diriku. Tidak ada orang yang tau kalau aku mau bebas keluar. Tapi aku tidak bisa menolong diriku sendiri, seakan-akan kepalaku mau pecah. Menangis diriku waktu mengingatnya. Aku bukanlah seperti yang dia tau…”

Nicholaspun tersadar dari pikiran bawah sadarnya. Kembali lagi kedalam kenyataan di sebuah kota metropolis. Berkali-kali dia mengalami mimpi seperti ini namun tidak pernah ada akhirnya dan menyisakan teka teki tentang Victoria. Diapun berkeluh kesah kepada Hypnoterapist. “kenapa kehidupan lain ini selalu menghantui aku? Ingin rasanya aku berlari dari kehidupan itu andai saja aku bisa”. Semuanya seakan-akan talah aku alami sebelumnya, tapi sangat sulit dikenali terkadang. Apakah aku harus hidup terus di kehidupan itu dan mencari jawabannya? Aku akan mencari jawabannya, tapi aku tak tau pertanyaannya. Aku juga tidak tau apa gunanya namun aku harus menemukannya, sebuah kunci untuk membuka alam pikiranku”. Sang hypnoterapist tetap saja mendengarkan keluh kesah Nicholas.

Sepulangnya ke rumah, Nicholas masih saja berpikir bagaimana caranya memecahkan teka-teki mimpinya selama ini. Victoria seakan-akan sudah menjadi bagian dari dirinya. Nicholas merasakan bahwa di masa lalu dia adalah Victoria. Semua yang Victoria rasakan, lihat, dan dengar seakan-akan telah pula dirasakan oleh Nicholas. Namun Nicholas masih belum mengetahui apa maksud semuanya. Nicholas merasakan bahwa pikirannya terbagi dua antara dia dan Victoria, dihubungkan dengan benang yang tidak beraturan yang mustahil untuk di urai.

Dalam tidurnya malam itu Nicholas tidak bisa tidur. Dia merasa asing dengan dirinya sendiri. Jawaban dari semua mimpinya harus ditemukan. Tiba-tiba dia merasa mendengar suara tangisan yang entah dari mana datangnya. Sebuah tangisan yang mungkin orang lain tidak bisa mendengarnya karena seakan-akan berasal dari dalam kepalanya sendiri. Dalam keresahan tidurnya itu akhirnya Nicholas terbangun dari tempat tidurnya dan keluar dari rumahnya. Dia berjalan terus hingga akhirnya dia menemukan sebuah rumah yang tidak asing baginya. Sebuah rumah yang pernah dia lihat di alam bawah sadarnya. Dia berhenti menatap rumah itu sampai akhirnya perhatiannya pecah dengan kedatangan seorang lelaki tua yang menghampirinya.

Dengan pandangan yang misterius lelaki itu berkata tanpa ditanya, “tidakah kamu tau bahwa disini dulu  ada seorang gadis dibunuh? Tragedi ini sudah dibicarakan selama bertahun-tahun”. Nicholas seakan-akan mendapat pencerahan, mungkinkah Victoria mati dibunuh dan dia dibunuh disini? Dengan perkataan dari lelaki tua itu dia seakan mulai mendapat jawaban dari siapa sosok yang sering menghampirinya. Lalu Nicholas bertanya untuk mendapatkan jawaban lebih atas teka-tekinya, namun lelaki tua itu menjawab “kamu ada di dalam dirimu sendiri, kamu akan tau kebenarannya seperti masa depanmu yang terbentang” sambil pergi meninggalkan Nicholas.

Setelah pertemuan malam itu dengan lelaki tua misterius didepan rumah yang ada dalam alam bawah sadarnya, Nicholas kemudian mencari-cari apa yang terjadi sebenarnya. Di perpustakaan tempat dimana arsip-arsip surat kabar tua tersimpan, Nicholas menemukan siapa sebenarnya Victoria. Hal mengagetkan timbul di kepala Nicholas ketika membaca surat kabar tahun 1928 dengan Headline newsnya tentang pembunuhan seorang gadis. Dikatakan di surat kabar itu Victoria Page telah dibunuh oleh kekasihnya sendiri Julian Baynes dengan cara ditembak. Sementara Julian sendiri ditemukan bunuh diri dan mayatnya jatuh tepat diatas tubuh Victoria.

Saksi dari pembunuhan itu yang bernama Edward Baynes, yang merupakan kakak kandung Julian mengatakan bahwa dia mendengar beberapa tembakan. Diapun berlari dengan maksud untuk memberikan pertolongan hingga akhirnya dia menemukan Victoria sudah terbaring tidak bernyawa. Saat itu Julian terlihat berdiri memegang pistol dengan wajah gugup dan gemetar. dan akhirnya Edward melihat sendiri adiknya bunuh diri dihadapannya dan terjatuh diatas mayat Victoria.

Berdasarkan wawancara di surat kabar itu Edward menceritakan semuanya kemungkinan mengapa kejadian ini bisa terjadi. Edward menceritakan bahwa Victoria dan Julian adalah sepasang kekasih, namun Julian memiliki sikap yang buruk selama ini dan suka berjudi dan mabuk-mabukan. Victoria sebenarnya ingin mengakhiri hubungannya dengan Julian. Sepertinya pintu maaf akan terbuka bagi Victoria dan sebuah kata maaf akan diberikan untuk Julian. Saat Victoria ingin memberikan maafnya itulah saat dimana akhir hidupnya demikian juga hidup Julian.

Dalam investigasi yang dilakukan, polisi menemukan sebilah pisau lipat, namun pertanyaannya adalah apakah pisau lipat itu milik korban atau bukan? Polisi juga menemukan surat di kantong Julian yang nampaknya surat bunuh diri.  “Aku rasa hanya ada satu yang harus aku lakukan. Aku akan menghilangkan nyawaku daripada aku harus hidup tanpamu”. Begitu isi suratnya.

Setelah seharian mencari jejak Victoria, Nicholas akhirnya sadar dia telah memcahkan misteri ini. Victoria mati begitu saja mengorbankan dirinya demi cintanya. Tiba-tiba kesedihan timbul di diri Nicholas. Seakan-akan dia merasakan kesedihan yang terjadi waktu itu. Dia merasa semua ini tidak adil bagi Victoria. Nicholas merasa dia telah mempelajari tentang makna hidupnya dengan melihat ke mata Victoria selama ini.

Melewati sebuah gereja tua dimana rumput-rumputnya panjang tidak terpotong, Nicholas melihat sebuah batu nisan di kompleks pemakaman di belakangnya. Tertulis disitu telah dimakamkan disini Victoria Page 1905-1928. Disitu Nicholas merasakan kehampaan yang amat sangat. Seakan-akan dia ingin menangis kehilangan Victoria yang bahkan tidak dia kenal sama sekali. Dia merasakan sekali bagaimana rasanya keluarga kehilangan Victoria seorang gadis yang tidak bersalah. Nicholas baru merasa keluarga sangatlah penting. Sepenting anak laki-laki dan mantan istrinya yang telah ditinggalkannya lama sekali.

Nicholas merasa sudah mengetahui semua kisah tentang Victoria, diapun merasa bahwa dia harus bertemu lagi dengan Victoria untuk sekali lagi berduka untuknya dan juga berterimakasih telah mengingatkan kepada dirinya pentingnya keluarga. Nicholaspun pergi sekali lagi menemui Hypnoterapist dan memintanya kembali menghubungkan dirinya dengan Victoria.

Ketika di alam bawah sadarnya Nicholas terkejut dengan apa yang terjadi. Saat itu dia tidak hanya melihat sosok Victoria saja, tetapi juga melihat sosok Julian Baynes dan Edward Baynes. Terlihat bahwa benar Julian adalah seorang sosok yang kasar dan suka mabuk. Kehidupannya benar-benar hancur seakan hilang tanpa tujuan. Victoria yang tidak tahan akan kehidupan Julian rupanya mencari tempat baru untuk mengadu.

Dengan menangis dan mencurahkan segala isi hatinya, Victoria datang ke Edward. Rupanya segala yang tidak didapat di Julian dengan mudah didapatkan. Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan Edwardpun mengatakan bahwa akan ada cinta baru yang tumbuh untuk setiap cinta lama yang telah mati. Didatangi oleh Victoria yang membutuhkan cinta baru, Edwardpun tidak bisa menahan rasa cintanya yang telah lama ingin berontak keluar dari hatinya. Godaan manis dari Victoria membuat Edward semakin tidak tahan dan semakin tenggelam kedalam lautan perselingkuhan bersama kekasih adiknya tersebut. Edward tidak perduli walaupun harus membohongi adiknya sendiri. Julian memang adiknya, tapi Edward juga cinta kepada Victoria yang telah membawa Edward merasa kembali kerumah yang sebenarnya.

Permainan cinta yang terjadi antara Victoria dan Edwardpun terjadi begitu panas, sepanas suasana tempat perjudian dan perut Julian yang penuh dengan alkohol. Kakak beradik tersebut keduanya sama-sama tenggelam dalam lautan kota Metropolis yang kelam.

Nicholas tersadar, bahwa ternyata ada cinta segitiga antara Victoria, Julian, dan Edward. Dia merasa menemukan kembali satu kunci yang akan membuka misteri ini selamanya. Namun masih ada satu misteri lagi yang belum diperoleh Nicholas dan dia bertekad untuk memecahkan seluruhnya. Nicholas lalu pergi kembali kerumah dimana Victoria terbunuh yang ternyata rumah Julian. Didalam rumah itu mungkin tersimpan banyak petunjuk atas kecurigaan Nicholas. Tiba-tiba dia merasakan dingin di sebuah kamar dimana seakan-akan dia menjadi sosok Victoria. Suatu kebetulan yang tidak bisa dia percaya. Sewaktu kecil dia sering memimpikan kamar ini. Kamar itu tidak lagi asing baginya, dia sudah pernah kesitu sebelumnya. Disitu dia seakan-akan melihat sesosok lelaki yang memohon maaf darinya tapi suaranya tidak terdengar. Disitu Nicholas bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah aku ini Victoria. Sehingga dia bisa merasakan semua yang dirasakan victoria saat masuk ke kamar itu.

Nicholas lalu kembali mengunjungi makam Victoria. Seperti sebelumnya, Nicholas merasa sangat damai disitu. Disitu dia juga menyadari bahwa kehidupan di dunia itu sangat pendek. Namun sebuah pertanyaan hinggap dikepalanya apakah kita semua pernah hidup didunia sebelumnya. Ini terkait perasaannya waktu berada di kamar Julian. Perasaan menyatu dengan Victoria dirasakannya seolah-olah Nicholas adalah reinkarnasi dari Victoria. Sebuah pertanyaan baru kembali timbul, apakah jika aku mati nyawaku akan berpindah ke orang lain lagi? Dia mungkin tidak pernah dapat menemukan jawabannya dan juga tidak akan pernah mengerti mengapa. Tiba-tiba dia mendengar seakan ada sesorang yang berbisik kepadanya. Suara yang tidak asing karena dia pernah berbicara dengan suara itu sebelumnya. Suara Victoria seakan-akan nyata berbisik di telinganya. “lanjutkanlah hidupmu, jangan terus berada dikuburanku karena aku tidak lagi ada di dunia ini. Tapi jangan biarkan ingatanmu akan diriku hilang”.

Nicholas akhirnya menyadari bahwa dia harus melanjutkan hidupnya dan jangan tenggelam di persoalan Victoria. Ketenangan telah diperolehnya dibandingkan sebelum dia mengetahui latar belakang Victoria. Meskipun Victoria berpesan untuk jangan melupakannya, akhirnya Nicholas memutuskan untuk kembali ke Hypnoterapist untuk menghapus semua ingatannya tentang Victoria.

“sekali lagi kamu akan berada di sekeliling cahaya putih. Ikuti cahaya itu dari masa lalu dan kembali ke masa sekarang. Dengan hilangnya cahaya secara perlahan kamu akan kembali ke kehidupanmu sebelumnya tanpa melupakan yang telah kamu pelajari. Ketika aku mengatakan padamu untuk membuka matamu, kamu akan kembali ke masa sekarang. Kamu akan merasa damai dan segar kembali. Buka matamu Nicholas”

Nicholas merasa segar kembali dan merasa dia tidak akan lagi dihantui oleh Victoria. Diapun kembali menuju rumahnya dari tempat si Hypnoterapist. Perasaan lebih lega dia rasakan saat dia mengemudikan mobilnya di jalan raya. Namun sebenarnya dia tidak mengetahui kisah lanjutan dari tragedi yang menimpa Victoria.

Dia tidak mengetahui bahwa dimasa lalu ada sesorang dengan gugup dan gemetar karena tidak dapat menahan kegalauan hatinya, menulis sebuah surat bunuh diri. Dengan hati yang galau, Edward menulis surat tersebut. Edward menulis surat itu setelah sebuah kesalahan yang telah dia lakukan sebelumnya. Di depan rumah Julian dia melihat Victoria dan Julian sedang bersama. Sepertinya Victoria ingin kembali membuka pintu maaf bagi Julian dan saat itu mereka bersama kembali berkasih-kasihan dan bermesraan. Victoria ingin menerima Julian apa adanya dengan bertemu dijalan setapak menuju rumah Julian. Mereka tidak tau bahwa ada sepasang mata yang melihat mereka.

Edward yang melihat adegan mesra antara Victoria dan Julian itu merasa bahwa Victoria adalah tidak lebih dari seorang wanita jalang yang loncat dari satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Merasa cintanya hancur Edward lalu menghampiri mereka berdua. Dengan perasaan kalap Edward mendorong Victoria dan menghajar Julian hingga botol wiskhy yang ada di kantong jas Julian terjatuh dan pecah. Dengan marah Julian mengeluarkan pisau lipatnya untuk menusuk Edward. Karena keadaan Julian yang tidak siap dengan mudah Edward menjatuhkannya. Tiba-tiba Edward mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya. Julian dan Victoria terpaku melihat senjata api yang dipegang Edward dan bertanya-tanya dari mana dia mendapatkan pistol itu? Namun belum sempat pertanyaan itu terjawab di benak mereka masing-masing pistol itu sudah menyalak terlebih dahulu dan mengenai tubuh Julian. Seketika itu pula Julian ambruk kesakitan.

Victoria yang melihat kekasihnya ditembak berteriak histeris sambil menutup matanya. Namun nampaknya Edward sudah dipenuhi dengan api kecemburuan sehingga tidak mempedulikan teriakan Victoria. Dengan tatapan tajam seperti serigala yang ingin menerkam mangsanya Edward berkata kepada Victoria, “buka matamu Victoria!” setelah itu pistol menyalak dua kali hingga menghabisi nyawa Victoria. Edwardpun lari entah kemana meninggalkan Victoria yang telah tewas dan Julian yang sedang sekarat.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Julian merangkak menuju mayat Victoria. Dengan penuh kasih dia memberikan kecupan terakhir kepada Victoria untuk kemudian Julianpun ambruk tak bernyawa tepat diatas tubuh Victoria.

***

Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Nicholas. Setibanya dirumah dan memarkirkan mobilnya di garasi Nicholas masuk ke rumahnya untuk bersantai. Dia menyalakan televisi untuk melihat berita apa yang terjadi hari ini selama dia diluar. Berita dari CNN tentang keadaan cuaca di sekitar Washington membuat Nicholas bosan. Diapun mengambil segelas wishky dengan dua bongkah es batu. Dinikmatinya wishky tersebut di kursi malasnya sambil mendengarkan piringan hitam kuno yang dia miliki.

Nicholas tidak menyadari bahwa ada sesorang didalam rumahnya. Seseorang yang ingin menyelesaikan lagi satu siklus pembunuhan yang telah dilakukannya di masa lalu. Seseorang reinkarnasi dari Edward Baynes yang ingin sekali lagi membunuh reinkarnasi dari Victoria. Seseorang dengan tatapan tajam seperti tatapan serigala yang ingin menerkam mangsanya itu mendekati Nicholas dan berkata “buka matamu Nicholas!”. Nicholaspun terkejut ketika melihat Hypnoterapistnya ada disampingnya. Namun itu merupakan pengelihatan terakhirnya ketika dia melihat si Hypnoterapist menghujamkan pisau ke tubuhnya, dan teriakan terakhirpun keluar dari mulut Nicholas, “Aaaahhh…”

………………………

(dari Dream Theater, Metropolis Pt 2: Scene From a Memory)

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Pikiran Kotor, Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s