Tutut…


Selama beberapa bulan ini di sepanjang jalan baru Yasmin Bogor, atau Jalan KH Abdullah bin Nuh hingga Jalan Sholeh Iskandar, sangat berjamur penjaja makanan tradisional tutut. Sebelumnya hanya satu gerobak yang berjualan tutut. Yang saya ingat salah satu gerobak pertama yang berjualan tutut memiliki slogan “sedotannya asoy…”, memang karena tutut dimakan dengan cara disedot dari cangkangnya (bisa juga dengan bantuan tusuk gigi, tapi sensasinya kurang). Namun sekarang menjamur sekali berjualan tutut. Di yasmin, tutut yang dijual di pinggir jalan banyak dijadikan tempat nongkrong atau pacaran. Konsumennya juga mulai dari pejalan kaki hingga yang bermobil mewah.

Tutut memang dikenal sebagai makanan tradisional khususnya di daerah jawa barat. Saya ingat pertama kali makan tutut waktu di daerah Darmaga. Seorang kenalan saya yang petani ikan membuat masakan tutut yang dia ambil dari kali di sebelah rumahnya. Dimasak dengan bumbu seadanya tapi tidak mengurangi kenikmatan mengkonsumsinya. Apalagi dengan sensasi sedotan di cangkang tutut. Dengan menjamurnya jualan tutut di yasmin mungkin bisa mengobati kerinduan orang-orang yang rindu akan makanan tradisional.

Pasar persaingan sempurna sangat terlihat di sepanjang jalan raya yasmin, dimana rata-rata menawarkan harga Rp. 3000 per porsi tututnya. Entah sebenarnya gerobak-gerobak tutut tersebut  banyak yang punya atau hanya beberapa orang saja yang punya, soalnya jika diperhatikan banyak gerobak-gerobak tersebut yang memiliki “brand” yang sama. Uniknya dari yang saya lihat banyak yang tadinya berjualan bubur ayam, es buah, bakso, dan lain-lain mengganti dagangannya dengan berjualan tutut. Gerobak jualannya yang bertulisakan bubur ayam dan lain-lain itu ditutupi dengan kain yang bertuliskan dan bergambar tutut. Istri saya sampai berkomentar, apa orang-orang ini ga punya kreatifitas ya, lihat orang yang jualan tutut berhasil akhirnya kepengen juga jualan tutut. Tapi ternyata ada juga orang-orang yang memiliki kreatifitas sendiri dengan menjual beberapa varian rasa dari tutut. Ada yang menjual tutut saos tiram, tutut kuah kari, tutut saos padang, dll. Kemarin saja saya mau beli tutut padang kehabisan karena mungkin laku. Aroma rendang tercium dari gerobaknya. Wah harus coba nih.

Namun dengan adanya demam jualan tutut ini saya jadi bertanya-tanya, ada ga yang memikirkan kelestarian tutut di alam. Mengingat selama ini tutut diperoleh dengan cara ditangkap dari habitatnya. Tutut hidup di perairan dangkal berlumpur seperti sawah, sungai, atau danau. Mungkin pikiran saya terlalu jauh kedepan namun jika demam tutut ini terus menjamur bukannya tidak mungkin populasi tutut di alam akan berkurang drastis. Jika sudah begitu bukannya tidak mungkin juga keseimbangan ekosistem di alam akan ikut terganggu. Mungkin saja ikan-ikan yang selama ini memakan tutut dan menjadi tangkapan untuk penangkap ikan akan berkurang jumlahnya sehingga mengurangi pendapatan si penangkap ikan.

Tutut juga dapat berperan sebagai inang perantara dari beberapa golongan cacing Trematoda. Cacing ini dapat berkembang dan hidup di usus manusia, sehingga manusia yang memakan tutut yang belum matang bisa terkena resiko cacingan. Dari yang saya baca juga tutut itu adalah hewan yang dapat membersihkan racun atau toxic yang ada di lingkungannya. Berbeda dengan hewan lain, tutut justru mengurai racun yang ada di sekitarnya tapi tidak ikut keracunan. Nah, hal ini harus dicurigai dari mana tutut tersebut ditangkap. Mungkin saja tutut ditangkap dari sungai atau danau yang tercemar, atau bahkan sawah yang penggunaan pupuk dan pestisidanya berlebihan. Konon kabarnya di sawah organik yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida justru sangat sedikit ditemui tutut. Nah lo…

Dengan permasalahan itu semua mungkin perlu dipikirkan bagaimana membudidayakan tutut, baik untuk konsumsi maupun untuk restocking di alam. Saudara jauh dari tutut yaitu bekicot sudah bisa dibudidayakan, bahkan diekspor hingga luar negeri. Disini mungkin tugas dari peneliti-peneliti di bidang budidaya perikanan diperlukan. Bagaimana menciptakan tutut yang bersih, dan yang penting supplynya terus ada sehingga kita semua bisa terus sedot-sedotan…

(dari berbagai sumber)

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Perikanan, Pertanian, Pikiran Kotor, Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s