Sarjana mau Jadi Apa


Bergetar hati ini rasanya waktu menyanyikan lagu Indonesia Raya di Gedung Graha Widya Wisuda IPB waktu wisuda sarjana dulu. Dalam hati waktu itu berkata, apakah yang bisa dilakukan oleh seorang sarjana seperti saya untuk Indonesia Raya Tercinta ini? Ingin rasanya berbakti kepada negara dengan status sarjana yang saya peroleh saat itu. Tapi hal itu mungkin hanya terjadi waktu wisuda saja. Setelah itu saya sibuk untuk mencari kerja agar gelar sarjana yang saya peroleh ini tidak sia-sia saja.

Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh sarjana-sarjana lainnya selain saya. Jaman sekarang seorang sarjana bukanlah hal yang istimewa lagi terutama di kota besar seperti Jakarta. Setiap tahun, perguruan tinggi bukan hanya mencetak sarjana-sarjana baru, tapi juga pengangguran-pengangguran baru yang siap berkompetisi mencari kerja. Entah pekerjaan itu benar-benar untuk menghidupi diri dan keluarganya atau hanya untuk sekedar gengsi saja.

Kompetisi dalam dunia kerja saat ini bukan hal yang bisa dianggap remeh lagi. Jika dijaman dulu seorang sarjana pasti akan mudah mendapatkan pekerjaan dengan posisi dan penghasilan yang tinggi. Sebab tidak banyak orang yang kuliah di jaman dulu. Setidaknya begitu kata orang-orang tua. Jaman sekarang sarjana dituntut untuk berusaha lebih ekstra untuk mendapatkan pekerjaan impiannya. Hasilnya pasti tidak akan sama seperti dulu. Sarjana sekarang harus menerima keadaan dimana banyak pesaing sehingga menurut hukum ekonomi jika pasokan banyak maka harga akan turun. Gaji dan posisi yang diperoleh juga pasti akan tidak setinggi sarjana-sarjana di tahun 70-80an.

Hal ini juga berimplikasi kepada sikap para sarjana. Tidak sedikit sarjana-sarjana yang bersikap tidak layaknya seorang sarjana yang berpendidikan dan berbudi pekerti luhur dan siap membangun bangsa dengan tenaga dan pikirannya. Contohnya bisa dilihat di jalanan. melanggar lalu lintas bukanlah hal yang aneh bagi banyak orang dan mungkin saja bagi banyak sarjana. Banyak sarjana-sarjana yang berangkat kekantornya naik motor tapi mengambil jalur orang seenaknya, melawan arus, ugal-ugalan, dan bahkan serobot menyerobot seakan-akan ingin mengejar uang yang jika tidak cepat akan diambil orang lain. Padahal jika dipikir seorang sarjana hendaknya mampu menjaga emosinya dan mengerti aturan-aturan yang berlaku. Lain halnya orang yang tidak sekolah, wajar jika mereka melanggar aturan karena mungkin mereka tidak mengerti aturan-aturan yang berlaku.

Contoh lain yang agak berat banyak sekali kasus-kasus korupsi dilakukan oleh orang yang memiliki gelar sarjana. Tidak hanya sarjana bahkan Master dan Doktorpun banyak yang terjerat korupsi. Bukannya mengabdikan diri dan ilmu yang dimilikinya tapi malah mengambil uang dari negara yang bukan haknya. Lalu bagaimana sarjana akan membawa perubahan???

Pos ini dipublikasikan di Pikiran Kotor dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s