Petualangan di Tanah Hindustan


CIMG1235

Mejeng di india Gate

Kali ini saya mau share pengalaman saya beberapa waktu yang lalu melakukan perjalanan ke negeri India, tepatnya di ibukota negaranya New Delhi. Saya mendapat kesempatan mendampingi “custodian farmers“-petani penjaga keanekaragaman buah-buahan, mengikuti workshop on custodian farmers di New Delhi.

Semuanya saya persiapkan selain presentasi yang akan dipresentasikan oleh petani. Dari informasi yang saya peroleh dan melihat dari tiket (yang semuanya sudah diurus sama sponsor) penerbangan akan ditempuh selama 2 jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur (transit disana), menunggu selama 4 jam di KL, dan lalu terbang dari KL ke New Delhi selama 5 jam. Terus terang ini perjalanan keluar negeri yang terjauh pertama saya. Belum membayangkan bagaimana berada diatas pesawat selama 5 jam (yang biasanya paling lama cuma 2 jam di dalam negeri).

Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta bersama 2 orang petani dari Surabaya dan Banjarmasin (kita ketemu di Soetta, Cengkareng). Perjalanan kami mulai dengan pesawat Malaysia Airlines dari terminal 2D. Agak canggung juga sih karena ini pertama saya keluar negeri naik pesawat di terminal 2D, saya juga harus menjaga image didepan 2 orang petani, jangan sampai kelihatan saya juga baru pertama. Kami check in di counter Malaysia Airlines dengan menyerahkan tiket dan paspor kami. Penjaga counter tiba-tiba menanyakan “pak mana visanya?” sambil memegang paspor saya. Karena saya menggunakan paspor dinas, maka saya jelaskan bahwa tidak perlu adanya visa ke India bagi pemegang paspor dinas karena sudah ada perjanjian antara Indonesia dan India. Untung untuk kedua petani visanya sudah beres 2 hari sebelum kami berangkat. Penjaga counter lalu menyerahkan 2 set boarding pass (6 lembar boarding pass) kepada kami dengan menerangkan bahwa boarding pass yang satu untuk naik di Soetta dan satu lagi untuk di Kuala Lumpur, jadi kita tidak perlu lagi check in di Kuala Lumpur, tinggal cari gate nya saja. Wah gampang ternyata. Di loket imigrasi juga tidak ada masalah dan dengan lancar dapat kita lewati.

CIMG0957

Bungkus rokok di Malaysia

Penerbangan kami mulai, dan seperti penerbangan-penerbangan lain yang didahului pengarahan dari pramugari yang bahasanya menggunakan bahasa Inggris dan bahasa melayu Malaysia. Tiba di Kuala Lumpur saya menunggu hingga 4 jam sampai tiba saat penerbangan selanjutnya ke New Delhi. Untuk mengisi waktu saya membuka laptop untuk browsing karena disana ada wifi gratis (walaupun cuma 3 jam gratisnya, padahal nunggunya 4 jam). Selain browsing-browsing saya juga keliling bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Banyak hal yang unik dan dapat dipelajari dan dicontoh di sana. Ini baru bandaranya, mungkin kalo keluar bandaranya masih banyak yang bisa dipelajari. Contohnya di salah satu kios rokok saya melihat bungkus rokok di Malaysia ada gambar yang serem-serem seperti kanker hati, bayi lahir prematur, cacat tubuh dll yang mungkin bisa membuat orang berpikir untuk merokok. Jadi tidak hanya sekedar himbauan “merokok dapat merusak bla bla bla…” tapi juga disertai contohnya.

CIMG0951

Kata-Kata lucu di KLIA

Ada satu lagi yang menarik di bandara KLIA yaitu ada kereta yang menghubungkan antara satu terminal dan terminal lainnya. Jadi penumpang yang mendarat di terminal 1 tidak perlu khawatir terlambat untuk penerbangan selanjutnya jika penerbangan lanjutannya itu di terminal 2, karena ada kereta yang tidak sampai 5 menit bisa mengantarkan ke terminal yang lain. Selain mempelajari situasi di sana, saya juga banyak membaca kata-kata yang mungkin dianggap “lucu” jika digunakan di Indonesia. Contohnya seperti Bagage claim atau di Indonesianya Pengambilan Bagasi, disana digunakan kata “tuntutan bagasi” (hebat, di malaysia bagasi bisa menuntut).

Tiba saat penerbangan ke New Delhi. Kami masuk kembali ke pesawat Malaysia Airlines yang lain. Pesawat ini lebih besar dari pesawat yang kami naiki sebelumnya (yang sama seperti pesawat domestik). Pesawat kedua ini untuk kelas ekonominya terdiri dari 2 bangku di sebelah kanan, 5 bangku di tengah dan 2 bangku di sebelah kiri. Di pesawat saya duduk bersebelahan dengan petani dari Malaysia yang juga akan mengikuti workshop di New Delhi.

CIMG0966

Suasana di Bandara internasional Indira Gandhi, New Delhi

Setelah 5 jam, akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Indira Gandhi New Delhi pada pukul 11 malam waktu setempat (1,5 jam lebih lambat dari Jakarta). Sebuah bandara yang lumayan bagus, bahkan jika saya nilai pribadi lebih bagus dari bandara Soetta. Yang pertama kami cari adalah toilet. Saya sangat berterimakasih kepada penjaga toilet di bandara karena saat itu paspor saya tertinggal di toilet dan dia langsung memanggil saya. Tanpa paspor bisa-bisa dianggap imigran gelap di India (siapa juga yang mau jadi imigran gelap di India, kaya ga ada negara lain aja). Sebabnya sebelum saya berangkat saya banyak membaca pengalaman orang lain melalui blognya dimana ada satu pengalaman yang mengatakan bahwa penjaga toilet di India suka meminta-minta uang. Tapi Alhamdulilah saya tidak mengalami hal tersebut.

Di pintu imigrasi, kami memilih pintu imigrasi untuk orang asing (foreigner). Antrian terlihat sangat panjang, saya lihat banyak orang-orang dari negara lain mau masuk india. Mungkin karena antrian yang panjang di loket foreigner ada seorang petugas disana mnegarahkan kami untuk ambil loket untuk Warga india. Disini terlihat tidak kompaknya, soalnya setibanya di loket banyak orang yang bukan warga India dimarahi petugasnya. “this is only for indians” dia bilang begitu sambil geleng-geleng khas orang India. Petugas imigrasi disana tidak seperti petugas imigrasi di Indonesia dan beberapa negar yang pernah saya kunjungi (Singapura dan Malaysia) dimana petugasnya menggunakan seragam laksana tentara.

Tiba di loket, petugas imigrasi menanyakan kepada saya “where is your visa?”. Nah lo, akhirnya tibalah kekhawatiran saya semenjak dari tanah air apakah bisa masuk India tanpa visa menggunakan paspor dinas. Sebelum berangkat saya sebenarnya sudah mendownload dokumen yang menaytakan bahwa pemegang paspor dinas Indonesia dapat masuk India tanpa visa sebagai bekal kalo ada kejadian ga boleh masuk. Saya lalu menjawab bahwa saya menggunakan Service Passport jadi bisa masuk India tanpa visa. Si petugas imigrasi mengembalikan paspor saya dan berkata dengan muka kecut”there’s a special counter for official/service passport right there” sambil menunjuk ke ujung kanan barisan loket imigras. Memang benar ternyata disana ada loket khusus untuk paspor dinas. Jadi saya tidak perlu bersilat lidah dan mengeluarkan senjata downloadan saya. Petani yang saya bawa karena menggunakan paspor biasa harus tetap mengantri di jalur biasa.

Keluar dari terminal kedatangan, udara dingin subtropis di New Delhi langsung menerpa tubuh saya. Untung saya sudah membertahu kepada 2 orang petani yang saya bawa untuk membawa baju agak tebal karena menurut info yang saya peroleh sebelumnya, suhu maksimal di New Delhi saat itu 24 celcius pada saat siang. Pada saat malam pastinya lebih dingin. Kami sudah ditunggu mobil jemputan yang memang disediakan oleh sponsor untuk menuju hotel. Setibanya di hotel kami langsung check in dan menuju kamar masing-masing. Kami harus istirahat karena besok pagi kami akan dijemput jam 8 pagi.

Besok paginya, kami sarapan di hotel. Ada kesulitan pertama waktu sarapan di Hotel terutama bagi para petani yang saya bawa. mungkin karena biasa sarapan menggunakan nasi dan di hotel tersebut tidak ada nasi.

Setelah sarapan kami dijemput menggunakan bus kecil menuju Kompleks Pusat Penelitian Pertaniannya India. Bus yang kami gunakan tidak ber AC tapi masih dingin karena suhu pagi itu masih dingin. Akhirnya saya mulai melihat satu sisi kota New Delhi. Tidak jauh beda dengan di jakarta dimana banyak orang menunggu bus dan kendaraan umum lainnya. Namun ada beberapa hal yang mengusik saya. Orang-orang Jakarta meskipun berkendara secara semerawut tapi masih santun dalam membunyiikan klakson. Sedangkan di New Delhi, tiada waktu tanpa membunyikan klakson, meskipun jarak antar kendaraan masih jauh. Teman saya dari Malaysia yang mungkin dinegaranya berkendaranya lebih santun dibandingkan Jakarta juga berkata bisa naik darah saya kalo disini terus.

Yang juga mengusik pemandangan saya adalah gelandangan yang ada di sana. Sebenarnya di Jakarta juga sering kita temui gelandangan. Namun jika dibandingkan dengan gelandangan yang ada di Jakarta dimana mereka kadang bertempat tinggal di kolong jembatan atau tempat tersmbunyi lainnya, di New Delhi gelandangan dengan bebasnya membuat tenda dari kain di pinggir jalan dan terlihat oleh semua orang yang lewat. Yang paling membuat saya terusik adalah nampaknya orang disana banyak yang suka kencing sembarangan. Saya melihat sepertinya orang disana waktu naik motor dan merasa ingin kencing, dia langsung berhenti dan kencing di tempat itu juga. Parahnya tidak sampai 500 meter saya melihat 3 orang yang seperti itu. Malamnya saya coba berjalan menyusuri New Delhi (yang dekat hotel aja), jalan-jalan disana banyak yang bau pesing.

Bagaimana dengan makanan disana? Saya pribadi cocok saja dengan beberapa makanan. Untuk hidangan dagingnya saya bertanya kepada pelayannya daging apa yang digunakan, pelayan hanya menjawab “Halal…”. Meskipun begitu ada seorang teman dari Malaysia yang masih ragu dan hanya memakan makanan vegetarian. Uniknya makanan disana dihidangkan dengan menggunakan yoghurt. Yang spesial bagi saya  adalah tahu yang dibuat dengan campuran yoghurt, menjadikan rasa dan tekstur tahu tersebut unik. Namun ada satu yang mengganjal bagi saya, ada sebuah makanan yang sepertinya bumbunya seperti bau minyak tanah, dan saya tidak mengetahui makanan yang mana karena jenis makanan yang kami makan sangat banyak. Mungkin karena salah satu bumbunya yang menyebabkan rasanya seperti minyak tanah.

Hari kami disana dilalui dengan workshop yang mungkin bisa membuat petani bosan. Maka dari itu saya dan seorang teman saya dari Malaysia berinisiatif untuk mengajak petani yang kami bawa untuk jalan-jalan keliling New Delhi. Kami disewakan mobil kecil yang cukup untuk 7 orang (3 orang Indonesia, 3 orang Malaysia, dan 1 supir). Supir yang membawa kami berkeliling nampaknya sering membawa turis yang datang ke New Delhi. Mulutnyapun tidak berhenti menerangkan mengenai jalan-jalan yang kami lewati dengan Bahasa inggris logat india yang kental (tidak lupa sampil menggeleng-gelengkan kepala). “New Delhi adalah kota politik dan pemerintahan, jadi kamu tidak akan menemukan Shahruk Khan dan Karina Kapoor disini” jelasnya diikuti dengan tawa kami yang mengerti bahasanya. “disini kamu hanya akan menemukan Mahmohand Singh, dengan politiknya yang membosankan” lanjutnya. Kamipun mengobrol hal-hal yang nyambung seperti Kuch kuch hota hai, dil to pagal hai, dan beberapa bahasa-bahasa India lainnya.

CIMG1224

Bersama Custodian farmers dari Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Malaysia, dan Nepal

Memang benar tidak ada tempat wisata menarik di New Delhi. Yang ada hanya museum monumen dan tempat-tempat politik. Kami mengunjungi India Gate, sebuah monumen ditengah kota New Delhi untuk mengenang para pahlawan disana. Kami juga menyusuri jalan yang biasa digunakan untuk parade militer saat hari kemerdekaan (biasanya memamerkan tank, rudal, dan nuklir yang mereka punya). Diujung lan tersebut terdapat istana presiden India yang megah. Kontras sekali dengan pemandangan yang saya lihat di pinggir jalan.

Malamnya setelah keliling New Delhi, kami diantar ke Bandara untuk kembali ke tanah air.

Sebagus-bagusnya negeri orang, saya masih bangga dengan negeri sendiri. Sejelek-jeleknya negeri orang, setidaknya bisa saya ambil pengalamannya untuk dipelajari agar tidak terjadi di negara saya.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s