Menciptakan Petani Tangguh


Katanya sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Setidaknya itu menurut buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah. Memang menurut beberapa sumber data sektor pertanain masih merupakan penyumbang terbesar bagi penyerapan tenaga kerja di Indonesia, bersama-sama dengan sektor perdagangan, jasa kemasyarakatan, dan sektor industri . Namun dari data BPS menunjukkan bahwa pada awal tahun 2014 jumlah penduduk yang bekerja di semua sektor jumlahnya naik, kecuali pertanian.

Sering membaca di beberapa artikel atau mendengar cerita-cerita saat diskusi, seminar dan kesempatan-kesempatan lain yang mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang jarang yang mau jadi petani. Anak-anak petani bahkan dididik oleh orang tuanya agar jangan jadi petani karena petani banyak susahnya. Bahkan dari segi akademis, Institut Pertanian Bogor yang seharusnya menciptakan generasi-generasi baru di bidang pertanian hanya menciptakan sarjana yang mempunyai ijazah untuk melamar kerja.

Dari pengalaman melihat kehidupan para petani, atau saya juga pernah menjadi petani, memang saya merasakan bahwa kadang petani menempati posisi paling rendah dalam rantai ekonomi. Dimana dalam proses “makan dan dimakan” dalam rantai bisnis, petani selalu menjadi yang paling tertindas dan harus siap dimakan oleh pelaku-pelaku bisnis pertanian yang lainnya. Oleh sebab itu sedikit orang yang mau jadi petani, bahkan anak petani sekalipun. Tapi tidak semua petan iseperti itu (saya dulu mungkin seperti itu). Banyak petani-petani yang tangguh dan bahkan bisa menjadi raja setidaknya bagi keluarganya sendiri.

Disaat banyak petani mengharapkan subsidi dan bantuan dari pemerintah, banyak juga petani di tempat lain yang tidak menyerah pada keadaan. Mereka menciptakan berbagai kreatifitas ditengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.  Entah mereka tidak butuh bantuan atau bantuan yang tidak sampai ke tangan mereka.

Saya pernah mengunjungi Kabupaten Enrekang di Sulawesi Selatan yang merupakan sentra produksi bawang merah disana. Saya dengan berani mengatakan bahwa mereka petani tangguh, dengan keterbatasan lahan yang mereka miliki, dimana lahan mereka terletak di bukit-bukit berbatu yang jauh dari sungai yang berada jauh dibawahnya, sehingga tidak memungkinkan mengalirkan air menggunakan irigasi yang hanya mengandalkan gravitasi. Namun mereka tidak menyerah pada alam daerah mereka. Mereka membangun irigasi sendiri dengan memompa air sungai dan kemudian mendistribusikannya menggunakan pipa-pipa yang melewati bukit-bukit berbatu, untuk menyiram tanaman bawang merah yang mereka tanam menggunakan sprinkler. Semua itu mereka lakukan sendiri dengan biaya yang mereka keluarkan dari kantong sendiri.

Image

Irigasi yang melewati bukit berbatu

 

Image

irigasi bawang merah menggunakan sprinkler

Dengan meyakini bahwa manusia merupakan mahkluk paling mulia dengan akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan, semua petani di Indonesia bisa menjadi petani tangguh. Kebijakan subsidi yang diberikan pada petani jangan membuat petani menjadi mahkluk yang manja. Kebijakan-kebijakan harus mengarahkan petani untuk menjadi insan yang kreatif dan mampu berdiri diatas kaki sendiri. Jangan juga petani tangguh tadi dirusak mentalnya dengan memberikan subsidi yang justru tidak tepat dan hanya akan membuat petani terlena dan jadi manja.

 

Pos ini dipublikasikan di Pertanian, Pikiran Kotor, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s