Berpetualang ke Negeri Kincir Angin (Part 1: Berangkat dan Nyampe)


Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengikuti training yang bertajuk “Horticulture Sector Development for Emerging Markets” yang diadakan oleh Wageningen University and Research, di Wageningen, Belanda. Saya dapat info training ini dari kantor yang mengumumkan beberapa training internasional yang dapat diikuti dengan dana dari kantor. Terus terang ini pertama kali saya mengajukan untuk ikut training internasional dan ikut trainingnya di luar negeri pula. Excited banget deh pokoknya..

Pengurusan demi pengurusan saya lewati mulai dari pengurusan dalam kantor hingga ke tingkat eselon 1 Badan Litbang Pertanian. Alhamdulillah semua urusannya lancar. Tiket, uang saku, paspor dinas, dan kelengkapan lain sudah ditangan, tinggal tunggu tanggal berangkat. Training akan dimulai tanggal 9 Mei 2016, untuk itu setidaknya tanggal 7 Mei 2016 saya harus sudah berangkat. Karena katanya perjalanan menuju Belanda akan memakan waktu hingga 13 jam. Sebelum berangkat saya terlebih dahulu browsing-browsing mengenai pengalaman orang-orang pergi ke Belanda untuk pertama kali. Terimakasih kepada Mbah Google yang telah memberikan banyak informasi untuk saya (biar saya ga plangak plongok).

Saya berangkat naik Qatar Airways berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Pukul 24.00 transit di Bandara Hamad International di Doha, Qatar sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Alhamdulillah delapan jam perjalanan dari Jakarta ke Doha berjalan lancar walaupun di pesawat cuma tidur-tidur ayam sambil ditemani beberapa film-film yang bagus (ga konsen juga nontonnya). Bandara Hamad International katanya bandara yang baru menggantikan bandara yang lama. Bandaranya bagus, setidaknya lebih bagus dari Soekarno-Hatta. Disini karena saya tiba pukul 04.30 pagi waktu setempat maka saya langsung mencari mushola untuk solat subuh. Karena ini di negara yang mayoritas Islam maka tidak sulit mencari mushola (praying room). Kesulitan saya temui waktu mengambil air wudhu dimana sepertinya kran wudhu menggunakan sensor. Ketuk sana ketuk sini, tempel sana tempel sini ko kran ga ngocor-ngocor juga. Akhirnya saya dibantu seorang petugas cleaning servicenya dengan agak mengetuk sedikit di sebelah kanan kran. Ya elah, noraaak… Sehabis solat subuh karena flight ke Amsterdam pukul 07.00 waktu setempat maka saya keliling-keliling dulu di bandara.

20160508_050509

Icon Bandara Hamad International Doha. Entah Boneka apa namanya…

Tiba saatnya boarding ke penerbangan menuju Amsterdam perasaan bercampur deg-degan sama seneng. Tujuh jam lagi saya nyampe Eropa soalnya. Katanya Belanda itu pintu masuknya Eropa, jadi dari Belanda mau kemana-mana di Eropa bisa. Di dalam pesawat sama seperti penerbangan dari Jakarta ke Doha kembali saya tidak bisa tidur. Akhirnya inflight videolah yang menjadi teman saya. saya duduk di seat dekat lorong dimana di sebelah saya ada seorang pria Belanda dengan anaknya yang masih kecil berbicara bahasa Belanda. Kadang berbicara bahasa Inggris waktu mau permisi ke saya karena mau ke toilet. Dalam pikiran saya, wah nanti sampe di Amsterdam semua orangnya begini semua ya, bule..

Yang unik waktu itu ada pembagian buku gambar untuk anak-anak dari Flight Attendant Qatar Airways. Ada seorang gadis kecil Belanda meminta buku gambar. Si pramugari bertanya umur kamu berapa? Anak itu menjawab hari ini tepat 12 tahun. Lalu sekitar 1,5 jam sebelum tiba di Amsterdam beberapa flight attendant menghampiri anak itu sambil bawa kue ulang tahun dan bernyanyi happy bithday to you. Wah sebuah pelayanan yang baik dari Qatar Airways ya. Kalo menurut teori kepuasan konsumen, Qatar Airways sudah bisa memberikan empathy kepada konsumen.

Mendarat di Bandara Schiphol Amsterdam saya lalu mencari toilet untuk buang air kecil. Seperti dugaan saya sebelumnya, toilet di Eropa adalah toilet kering. Untung saya bawa air di botol untuk bersuci. Setelah dari toilet saya ikut mengantri di imigrasi. Petugas imigrasinya lumayan ramah dengan senyum dia melayani. Dalam bahasa Inggris dia bertanya maksud dan tujuan serta berapa lama saya mau tinggal di Belanda. Setelah paspor saya di cap, dia mengembalikan paspor saya dengan mengucapkan “terimakasih”. Ya, terimakasih dia ucapkan dalam bahasa Indonesia. Mungkin beberapa kata dalam bahasa Indonesia orang-orang Belanda masih paham. Selain itu saya dapat informasi juga bahwa orang Belanda relatif bisa berbahasa Inggris. Jadi ga lost in translation disana..

Setelah itu saya menunggu bagasi saya keluar. Sambil menunggu saya mengamati sekeliling bandara. Bandara Schiphol mungkin bandara yang sudah tua jadi kelihatannya ga bagus-bagus amat dibandingkan Bandara Hamad International di Doha. Mungkin sama dengan Bandara Soekarno-Hatta. Tapi di Bandara Schiphol ada free Wifi sehingga saya bisa mengabarkan orang-orang di Indonesia kalo saya sudah sampai lewat whatsapp dan update status di facebook. Katanya free wifi itu bisa dipake selama 1 jam. Awalnya saya mau membeli sim card lokal Belanda tapi saya berpikir di hotel nanti kan ada wifi, jadi bisa dipake tanpa ada sim card lokal. Lumayan bisa hemat 30 Euro (kalo mikir kurs rupiahnya bisa engap-engapan)

Seperti yang sudah saya baca di beberapa blog sebelumnya, Terminal kedatangan di Bandara Schiphol menyatu dengan stasiun kereta dimana saya harus naik kereta untuk sampai ke Wageningen. Panitia training sebenarnya sudah memberikan ancang-ancang kereta mana yang harus saya naiki untuk bisa mencapai Wageningen. Katanya saya harus naik kereta ke tujuan akhir Nijmegen tapi turun di Stasiun Ede-Wageningen. Tapi saya putuskan untuk bertanya, itung-itung practice my english juga.

20160508_135504

Terminal kedatangan menyatu dengan stasiun kereta di Schiphol Airport, Amsterdam

Setelah saya bertanya kepada petugas ternyata kereta yang harus saya naiki berbeda dengan ancang-ancang yang diberikan panitia. Agak sedikit bingung saya akhirnya mengantri di loket dan membeli tiket menuju Stasiun Ede-Wageningen. Menurut petugas, saya harus transit dulu di stasiun Amersfoort untuk naik kereta lagi ke stasiun Ede-Wageningen. Belakangan saya tau ternyata ada kereta langsung dari Schiphol Airport ke Ede-Wageningen tapi hanya pada jam tertentu. Tiket yang saya beli merupakan tiket berbentuk kartu dari bahan karton dan disitu ada tulisan stasiun tujuan dan biayanya. Biaya dari Schiphol Airport ke stasiun Ede-Wageningen adalah 16,5 Euro. Selain tiket juga saya dibekali kertas selembar untuk diberitahu stasiun-stasiun mana saja yang akan saya lewati. Mungkin karena petugasnya tau saya orang baru jadi dikasih.

Karena waktu berangkat kereta masih lama saya teringat sesuatu. Saya harus berfoto dulu di tanda masuk bandara Schiphol, sebagai bukti saya sudah sampai Belanda. Tidak jauh dari tempat membeli tiket ada pintu keluar sekaligus pintu masuk, tempat biasa orang-orang berfoto (liat di blog-blog). Akhirnya saya mengeluarkan tongsis saya. Terus terang saya ga berani minta foto ke orang karena katanya di Belanda banyak copet. Ga lucu hari pertama saya di Belanda HP saya dibawa kabur orang.

IMG_2016-05-08 13-57-54

Maaaak… Nyampe Belandeeee…

Waktu itu suhu di Bandara Schiphol panas dan saya merasa salah kostum karena pake jaket. Tapi gapapalah, toh di pesawat tadi juga lumayan dingin. Setelah foto-foto di pintu masuk Bandara Schiphol saya lalu menuju stasiun kereta untuk menunggu kereta ke Amersfoort. Stasiun kereta Schiphol Airport ada tepat di bawah kedatangan bandara Schiphol. Jadi untuk menuju peron kita harus naik eskalator menuju bawah.

Setelah kereta menuju Amersfoort datang saya lalu naik. Ternyata di dalam kereta juga ada free wifi, tapi kecil. Jadi saya memilih mematikan wifi HP saya takut batrenya habis. Di perjalanan saya liat ke luar jendela dengan takjub. Wah.. Ini ternyata Belanda ya..

Sampai di Stasiun Amersfoort saya tiba di peron 4 dan harus menuju peron 2. Ternyata saya harus naik tangga untuk menuju peron 2. Dengan setengah terengah-engah saya sambil membawa koper besar naik tangga. Di tengah-tengah antara peron 4 dan 2 saya melihat beberapa orang men”tap” kartu yang dimilikinya. Memang bagi orang-orang yang menetap di Belanda menggunakan kartu (semacam kartu e-money) untuk bertransportasi lebih enak karena tinggal tap di pintu masuk. Kalo habis tinggal diisi ulang. Tapi pertanyaannya apa karcis saya harus ditap juga? Karena gamau keliatan orang baru (gengsi) saya ga nanya ke orang lain. Tapi belakangan saya tau ternyata meskipun kita menggunakan kartu karton tetap harus di tap. Kalo ga di tap pas ada pemeriksaan bisa dikenakan denda suplisi. Untung waktu itu ga ada pemeriksaan. Di peron 2 kereta menuju Stasiun Ede-Wageningen sudah menunggu dan siap untuk berangkat.

Total perjalanan dari Schiphol Airport ke Ede-Wageningen setelah transit di Amersfoort sekitar 1,5 jam. Setibanya di Ede-Wageningen saya bertanya kepada petugas dimana Bus nomor 88 yang menuju Wageningen. Seelumnya panitia training juga sudah memberikan ancang-ancang tentang bus yang harus saya naiki. Selain itu maha guru Mbah Google juga sudah memberikan informasi mengenai itu. Sama seperti di kereta, bagi penduduk sana banyak yang menggunakan kartu e-moneynya untuk di”tap” di pintu masuk bus. Karena saya tidak punya maka saya beli tiket kertas yang dijual di atas bus langsung oleh supirnya. Tiket bus dari Stasiun Ede-Wageningen ke Wageningen Bus Stop sebesar 3,5 Euro. Bus melewati kampus Wageningen UR, tapi saya ga turun karena masih 3 minggu lagi waktu saya disana nanti pasti mampir.

20160508_163119

Tiket bus beli langsung di supir, lengkap dengan stempel dan kembalian.

Tiba di Wageningen Bus Stop (pemberhentian terakhir dari bus), saya masih harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk tiba di penginapan Hotel Hof van Wageningen. Sebenarnya tadi sudah melewati penginapan tempat saya akan menginap, tapi karena disini tidak boleh berhenti di sembarang tempat maka saya harus berhenti di Bus Stop (emang angkot bogor bisa berenti dimana aja). Sambil geret-geret koper akhirnya saya sampai di penginapan. Setelah check in dan registrasi di panitia training saya kembali ke kamar untuk mandi. Waktu menunjukkan jam 17.30 sore tapi matahari masih terik bersinar. Memang saat itu menjelang musim panas dimana matahari tenggelam biasanya diatas jam 21.00. Setelah mandi saya menjamak solat Ashar dan Dzuhur setelah itu saya tidur karena sudah sangat lelah. Malamnya saya tidak mengambil jatah makan malam saya karena saya baru terbangun pukul 23.00. Saya hanya bangun dan solat Maghrib dan Isya lalu tidur lagi sampai terbangun subuh besoknya.

Pos ini dipublikasikan di Apa Aja, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s