Berpetualang ke Negeri Kincir Angin (Part 2: and the class begin)


Hari pertama bangun di Wageningen. Sebuah kota kecil di Belanda yang terkenal dengan Wageningen University and Research. Sebuah kota pelajar dimana suasana disana tenang sekali, pas untuk belajar. Pagi itu terasa agak aneh karena bangun di negeri asing. Suasana juga berbeda dengan suasana bangun di pagi hari di Bogor. Walaupun katanya Wageningen itu kota kembarnya Bogor, tapi kayanya Bogor jaman dulu deh. Subuh saat itu sekitar pukul 4.00 pagi dan matahari terbit pukul 5.00.

Sarapan di hotel Hof van Wageningen tersedia pukul 7.00 waktu setempat. Biasa tetap bangun setelah solat subuh saya menyalakan TV yang ada di kamar. Di semua channel bahasanya bahasa Belanda, yang ada malah bikin pusing. Energi yang kemarin terkuras di perjalanan kayanya mulai terkumpul lagi setelah kemarin seharian di pesawat cuma tidur-tidur ayam. Setelah mandi, tepat jam 7.00 saya keluar kamar untuk sarapan di restoran. Sengaja saya cuma mengenakan kaos oblong dan jeans tanpa persiapan untuk masuk kelas biar nanti saya bisa balik lagi ke kamar untuk ganti baju. Oya, kelas training ada di tempat yang sama dengan penginapan yaitu di Hotel Hof van Wageningen. Ruangan yang digunakan adalah ruangan Dorskamp 1 dan 2, sepertinya dua ruang pertemuan yang dijadikan satu biar lebih luas.

Karena kamar saya di lantai 5 saya harus menggunakan lift untuk turun. Sambil menunggu lift saya bertemu teman sesama peserta training dari Indonesia namanya Mbak Nina dari Direktorat Jenderal Hortikultura. Saya sebenarnya sudah pernah beberapa kali rapat sama Mbak Nina ini tapi baru kali ini saya bisa kenal dengan Mbak Nina. Di restoran saya bertemu lagi dengan teman Indonesia yang lain yaitu Pak Edwin, seorang private agricultural extension. Peserta dari Indonesia semuanya berjumlah delapan orang, terbanyak dari 25 peserta seluruhnya. Ngobrol-ngobrol dengan Mbak Nina dan Pak Edwin ternyata hampir semua peserta dari Indonesia mendapatkan pembiayaan training dari NFP (Netherland Fellowship Programme), sebuah program dari pemerintah Belanda untuk mengikuti training yang diadakan oleh Center for Development Innovation (CDI) Wageningen UR – yang mengorganisir training ini. Saya yang pembiayaannya dari kantor jadi tertarik mungkin lain kali saya juga akan apply untuk program tersebut. Info baru untuk orang yang selama ini mungkin cuma terkungkung di dalam sangkar.

Selesai makan saya kembali ke kamar untuk berganti kostum resmi dan lalu menuju ruang Dorskamp 1 dan 2. Disitu sudah menunggu beberapa teman baik dari Indonesia dan beberapa negara lainnya. Selain Indonesia peserta training ini dari negara-negara berkembang lain seperti India, Afganistan, Bangladesh, Vietnam, Filipina, Nepal, Kenya, Tanzania, dan Ethiopia. Didalam kelas juga sudah menunggu dua orang class coordinator yang brewok-brewok. Satu orang namanya Edwin van der Maden, seorang Belanda tulen dan satu orang lagi bernama Yeray Savedra Gonzales seorang Spanyol. Kemudian ada lagi dua orang Belanda ibu-ibu, administrasi dari kelas ini. Sekaligus yang selama ini memandu saya dan teman-teman peseta training lainnya via email untuk mengikuti training ini. Akhirnya saya bisa bertemu dan berterimakasih secara langsung dengan Maria van Soelen, orang yang selama ini memandu saya via email.

20160509_090511.jpg

Pengarahan dari class coordinator dan administrasi

Kelas dibuka dengan perkenalan singkat mengenai training dan apa yang akan dilakukan selama tiga minggu ke depan. Training dibuka secara langsung oleh Direktur Center for Development Innovation Wageningen UR. Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan semacam ice breaking oleh para class coordinator untuk mengenal satu sama lain. Sebuah cara yang unik untuk dapat mencairkan suasana dan dalam waktu yang singkat kami semua dari negara dan latar belakang yang berbeda dapat akrab.

20160509_101554.jpg

Pembukaan oleh Direktur Center for Development Innovation Wageningen UR

Training selama tiga minggu ini adalah sebuah training mengenai pembangunan sub-sektor hortikultura untuk negara-negara berkembang. Dilatar belakangi oleh meningkatnya jumlah penduduk yang memiliki pendapatan menegah keatas di negara-negara berkembang yang menginginkan produk-produk buah dan sayuran yang lebih berkualitas. Selain itu pasar di negara-negara maju seperti Uni Eropa yang juga menginginkan produk-produk hortikultura yang berkualitas. Pendekatan dari training ini menggunakan pendekatan rantai nilai (value chain), yang sebelumnya saya hanya pernah mendengar saja di kantor mengenai konsep ini, karena ada kegiatan yang terkait rantai nilai. Tapi karena saya tidak terlibat maka saya cuma mendengar istilahnya saja. Bersyukur saya bisa dapat kesempatan belajar sendiri tentang rantai nilai ini.

Di awal semua peserta diberikan tugas individu untuk membuat poster tentang permasalahan di sub sektor hortikultura yang dihadapi di negaranya masing-masing. Poster tersebut dibuat menggunakan kertas besar yang ditempel atau digambar sesuka kita sehingga dapat menggambarkan permasalahan yang ada dan dapat menjelaskan mengapa masalah ini penting untuk dikaji. Dari poster-poster yang ada dipilih enam poster yang nilainya paling tinggi untuk kemudian seluruh peserta akan dibagi menjadi enam kelompok sesuai dengan enam poster paling tinggi tersebut. Penilaian juga dilakukan secara objektif dari masing-masing peserta memilih satu atau dua poster yang disukai sehingga diperoleh nilai tertinggi. Poster-poster yang terpilih tersebut temanya akan menjadi tema kelompok selama training tersebut. Saya menangani masalah bawang merah di Indonesia dengan kelompok yang terdiri dari empat orang yaitu saya, Mbak Nina, Mbak Arini yang ketiganya dari Indonesia dan Padhu dari India.

Training ini disampaikan dengan cara yang unik sehingga peserta tidak bosan hanya duduk mendengarkan materi saja. Setiap hari disampaikan materi yang berbeda-beda dan setelah itu peserta training secara berkelompok diminta untuk mengerjakan tugas sesuai materi yang disampaikan sebelumnya yang berkaitan dengan rantai nilai. Tugasnya seperti anak TK yang belajar menggambar dan menggunting kemudian ditempel di kertas besar sebagai bahan untuk dipresentasikan di akhir hari. Tapi saya akui metode seperti ini cukup membuat saya mengerti akan materi yang disampaikan dan tidak mudah lupa. Bahkan metode seperti ini mungkin cocok untuk diterapkan di Kelompok Peneliti saya untuk merumuskan beberapa hal yang harus didiskusikan karena dapat lebih menggambarkan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan berdebat tanpa alat bantu.

IMG-20160511-WA0030.jpg

Menggambar, menempel, mencoret-coret, kaya anak TK

Di hari-hari selanjutnya sebelum kelas dimulai selalu diadakan refleksi tentang apa saja yang diperoleh hari sebelumnnya, tidak hanya mengenai pelajaran tapi juga pengalaman-pengalaman baru yang ditemui selama di Belanda.

Salah satu yang menarik bagi saya adalah penggambaran mengenai rich picture. Disini kita diminta untuk menggambarkan mengenai permasalahan yang terjadi di suatu komoditas menggunakan gambar-gambar dan coretan-coretan. Seluruh anggota kelompok diminta menggambarkan kondisi yang terjadi. Karena kelompok saya mengambil contoh permasalahan bawang merah di Indonesia, tentunya hal ini agak sedikit menyulitkan untuk Padhu karena dia dari India dan tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Perdebatan-perdebatan sering kita temui pada saat menyusun poster yang akan dipresentasikan di akhir hari termasuk dalam menyusun rich picture ini. Tapi dengan menggunakan rich picture ini saya dapat lebih mengerti mengenai kondisi sesungguhnya secara keseluruhan dari bawang merah di Indonesia.

20160510_171928.jpg

Rich Picture of Shallot

IMG-20160510-WA0048.jpg

Bergaya didepan hasil karya

Selain di kelas juga dilakukan beberapa kunjungan terutama ke lokasi-lokasi yang berkaitan dengan rantai nilai seperti insitutsi penelitian, farm, distributor, dan pendukung lainnya. Pengalaman ini sangat berarti untuk saya karena saya bisa menambah ilmu. Tentunya selama tiga minggu mengikuti training dirasa masih kurang. Maka dari itu saya jadi ketagihan mau mencari-cari kesempatan training lagi.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s