Berpetualang di Negeri Kincir Angin (Part 3: Meet the Netherlands)


Tiga minggu di Belanda tidak lengkap kalo tidak jalan-jalan mengetahui seperti apa sih negara ini. Sebuah negara kecil yang pernah menguasai Indonesia di masa lalu yang katanya bagus dan indah. Katanya dari ujung barat ke ujung timur Belanda hanya ditempuh selama 3,5-4 jam, dan ujung utara hingga ujung selatan selama 5 jam dengan kecepatan normal di freeway. Jalan-jalan pertama saya adalah hanya sekedar berjalan kaki melihat-lihat sekitar hotel Hof van Wageningen. Hotel yang saya tempati tersebut bisa dibilang berada di tengah-tengah Wageningen. Di dekat hotel ada pusat kota berupa jalan lorong (mereka menyebutnya Centrum) yang hanya bisa dilewati sepeda dan pejalan kaki.

Di Centrum ini sepertinya pusat perbelanjaan karena di sepanjang jalan tersedia banyak toko-toko mulai dari toko makanan, restoran, souvenir hingga pakaian. Saat suasana panas banyak orang yang duduk di luar restoran sambil menikmati sinar matahari. Hari pertama saya dan teman-teman Indonesia saya jalan-jalan sambil berfoto-foto dan berselfi-selfi ria menggunakan tongsis yang sudah saya bawa dari Indonesia. Sebenarnya kami punya dua tongsis, tapi tongsis yang satu lagi punya Arda tongsis yang cuma bisa dipake jawil-jawil temen di depan untuk minta fotoin aja. Tongsis saya adalah tongsis yang ada tombolnya.

Suhu saat minggu pertama saya di Wageningen dapat dibilang cukup bersahabat. Suhu sekitar 24 C. Tapi memasuki minggu kedua suhu mulai mendingin. Bahkan saya pernah melihat di aplikasi Accuweather di satu malam pernah suhu mencapai 2 C. Di minggu kedua itu saya keluar selalu mengenakan jaket. Bahkan waktu saya mengunjungi Keukenhof bisa dibilang saya salah kostum karena awalnya saya menyangka dinginnya hanya dingin lembang yang saya sudah biasa. Tapi ternyata kaos oblong dan jaket tidak bisa mengalahkan dinginnya.

IMG-20160509-WA0035.jpg

Teman-teman training dari Indonesia. Atas Mbak Nina, saya, Arda. Bawah Pak Edwin, Mas Rahman, Mbak Arini, Mbak Syerli. Ada 1 lagi Mbak Emmy tapi ga ikut

IMG-20160509-WA0036.jpg

Centrum

Kota yang paling dekat dengan Wageningen adalah Arnhem. Berbeda sedikit dengan Wageningen, Kota Arnhem lebih ramai dibandingkan Wageningen. Saya pertama kali mengetahui kota Arnhem waktu sehabis jalan-jalan ke Keukenhof (taman bunga tulip yang akan saya ceritakan di tulisan lain). Seharusnya saya turun kereta di Stasiun Ede-Wageningen tapi terlewat. Stasiun selanjutnya adalah Arnhem. Bus dari Arnhem ke Wageningen ongkosnya 4,5 Euro untuk sekitar 45 menit perjalanan.

Oya, berbicara mengenai transportasi, orang Belanda ini senang sekali naik sepeda. Selama tiga minggu di Wageningen setiap hari saya melihat sepeda berseliweran. Tua, muda, anak-anak, dan orang dewasa semua menggunakan sepeda. Fasilitas untuk sepeda juga disediakan benar oleh pemerintah Belanda seperti jalan khusus untuk sepeda dan parkiran sepeda. Sepeda juga merupakan bagian dari jalan dimana lampu lalu lintas juga tersedia untuk sepeda. Hampir di seluruh halte bus tersedia tempat parkir sepeda sehingga orang bisa memarkir sepedanya saat mau naik bus ke tempat yang lebih jauh. Konon kabarnya satu orang Belanda bisa memiliki dua atau lebih sepeda. Sebuah gaya hidup yang sehat dan didukung oleh pemerintahnya.

Saya juga sempat mengunjungi Kampus Wageningen University and Riset. Waktu itu seorang teman Indonesia saya janjian dengan salah seorang peneliti di Wagenignen UR. Teman-teman lain juga ikut ingin ikut berkunjung ke Kampus Wageningen UR termasuk saya. Tanpa disangka ternyata Dr. Steven Groot (masih nyimpen kartu namanya) si peneliti itu sudah menyiapkan materi presentasi yang menarik untuk kami. Tanpa ada jaim-jaiman dia menyambut kami dengan hangat dan tidak segan-segan menerangkan apa yang selama ini dia kerjakan. Tanpa ada suasana feodalistik seperti halnya saya menemui dosen-dosen dulu waktu sekolah S1 dan S2.

20160516_194930.jpg

Gedung Forum. Iconnya Wageningen UR

Salah satu program dari training yang saya ikuti adalah “Meet the Netherlands”. Sebuah program yang dibawakan oleh Mrs. Luz Wiersema. Luz ini ternyata pernah tinggal di Indonesia saat suaminya bekerja di Indonesia, tepatnya di Bogor. Saya lalu bilang ke dia bahwa saya tinggal di Bogor dan menceritakan bahwa Bogor sekarang sudah berubah, mungkin tidak sama dengan saat dia tinggal di Bogor dulu.

Luz lalu membawakan materi yang berjudul Meet the Netherlands. Materi ini memperkenalkan Belanda secara global mulai dari sejarahnya hingga kehidupannya saat ini. Disitu saya baru memahami perbedaan antara Netherland dengan Holland. Dijelaskan bahwa nama resmi negara Belanda adalah Netherlands, dan Holland merupakan nama provinsi di Belanda yang terbagi jadi Holland Utara dan Holland Selatan. Jaman dahulu pelaut-pelaut Belanda yang mengelilingi dunia berasal dari Holland sehingga ketika mereka ditanya asalnya dari mana mereka akan menjawab dari Holland. Dijelaskan juga mengenai Water Management yang dilakukan oleh Belanda dimana negara Belanda merupakan negara yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Sehingga mereka harus bersahabat dengan air agar tidak kebanjiran. Beberapa bahasa belanda yang simple juga diajarkan seperti Goddemorgen, Dankewell, dll. Satu yang berkesan yang sangat sulit kita ucapkan adalah kalimat dalam bahasa Belanda yang artinya “88 kanal yang indah”. Bahasa Belandanya Achtentachthtig prachtige grachten. Dibacanya Akhtentakhtekh Prakhtekh Khrakhten (siapkan riak banyak-banyak). Saya baru bisa mengucapkan itu di minggu ke-3.

Di materi ini Luz juga memperkenalkan makanan-makanan tradisional Belanda seperti keju, licourice, ikan hering, stroopwafel dan lain-lain. Ikan hering mentah juga disajikan dalam materi saat itu dan ternyata ikan mentahnya enak. Keju merupakan makanan sehari-hari orang Belanda. Tidak heran kalau orang Belanda tinggi-tinggi karena kebutuhan kalsiumnya selalu tercukupi dari keju. Selama tiga minggu di Belanda makan keju terus mudah-mudahan saya tambah tinggi. Selain itu budaya orang Belanda adalah budaya minum bersama baik itu minum minuman beralkohol ataupun yang tidak. Sebagai muslim tentunya saya memilih beberapa softdrink saja untuk diminum.

20160509_134135.jpg

Stroopwaffel. One of the best from Netherlands

20160510_211817.jpg

Ikan hering mentah. Rasanya enak tapi, mentah-mentah juga…

Sopan santun dan tata krama orang-orang Belanda juga dijelaskan oleh saat itu. Disebutkan bahwa orang-orang Belanda merupakan orang yang gemar menyapa. Mungkin ada benarnya juga sebab semenjak saya pertama tiba, orang-orang banyak yang menyapa satu sama lain walaupun mungkin tidak saling kenal. Bahkan di dalam lift dan di bus seringkali orang-orang menyapa saat turun duluan walaupun tidak saling mengenal. Suatu budaya yang bagus dan harus dibudayakan, yaitu budaya menyapa.

Kegiatan Meet the Netherlands ini akan dilanjutkan pada weekend pertama dengan melakukan kunjungan ke Zaanse Schans dan Amsterdam. Zaanse Schans merupakan sebuah desa tradisional yang mempertahankan kebudayaan Belanda dari abad ke -17/18. Disitu juga terdapat beberapa kincir angin tua yang menjadi simbol khas Belanda. Di perjalanan dijelaskan bahwa kincir angin aslinya berasal dari turki dan dimodifikasi oleh orang Belanda. Selain itu beberapa tempat menarik juga terdapat di Zaanse Schans seperti museum tempat pembuatan sepatu kayu tradisional Belanda, pabrik keju (termasuk testernya), dan beberapa museum kecil. Seperti biasa, tempat ini juga menjadi tempat foto-foto dan selfi-selfi dengan tongsis sakti. Melihat banyak kincir angin tua di Zaanse Schans saya jadi membayangkan sebuah lagu slow dari Helloween, grup metal asal Jerman yang berjudul Windmill. Dalam hati saya bernyanyi “Windmill windmill keep on turning, show me the way take me today, windmill windmill hearts are yearning, longing for love and a chance to be free..”.

20160515_102449.jpg

Windmill windmill keep on turning…

20160515_104324.jpg

Di depan windmill bersama teman-teman dari Indonesia, Kenya, Afghanistan, Nepal, dan Vietnam

20160515_094555.jpg

Mencoba sepatu kayu raksasa bersama Shreff Mahmood dari Bangladesh

Setelah mengunjungi Zaanse Schans kami lalu mengunjungi ibukota Belanda yaitu Amsterdam. Dijelaskan oleh Luz meskipun ibukota Belanda adalah Amsterdam, namun pusat pemerintahan tidak di Amsterdam melainkan di Den Haag. Amsterdam lebih seperti kota budaya dan tempat wisata. Disini kami melihat apa yang disebut dengan Achtentachthtig prachtige grachten (88 kanal yang indah). Memang kota Amsterdam terdiri dari kanal-kanal yang teratur. Kanal-kanal tersebut biasa digunakan sebagai tempat wisata untuk mengelilingi Amsterdam menggunakan perahu. Di kanal-kanal tersebut banyak terdapat rumah-rumah perahu yang legal. Rumah-rumah tersebut juga membayar pajak dan difasilitasi listrik dan air bersihnya. Bahkan kabarnya harga rumah perahu lebih mahal dibandingkan rumah yang ada di tanah.

20160515_154705.jpg

Canal Cruise..

Yang unik dari Amsterdam adalah adanya Coffe Shop yang tidak menjual kopi. Mungkin itu hanya istilah sebutan saja untuk beberapa toko yang menjual ganja atau mariyuana. What..!!?? Memang di Belanda barang-barang haram tersebut legal asal dikonsumsi di tempatnya, ya di Coffe Shop tadi. Selain itu ada satu lagi tempat yang terkenal di Amsterdam tapi saya tidak berani mengunjunginya yaitu Red Light District, sebuah lokalisasi yang ada di Amsterdam. Katanya disana secara terang-terangan tubuh dijual di etalase-etalase dengan harga yang bisa ditawar. Saya jadi ingat film Eurotrip yang pemerannya mampir ke Coffe Shop dan Red Light District. Seorang teman ada yang mengunjungi tepat itu dan mencoba sebuah atraksi di satu ruangan dengan memasukkan koin 2 Euro di sebuah mesin. Live show selama dua menit yang dilihatnya, seorang perempuan cantik menari-nari tanpa menggunakan busana. “Aku langsung keringetan mas…” teman saya bilang. Karena dia masih bujang saya langsung saja bilang, “makanya kawiiiin…”.

Di Amsterdam saya hanya berjalan-jalan ke Pasar Bunga atau yang biasa disebut Bloomen Markt. Disitu memang dijual bunga-bunga Belanda beserta bibitnya berupa umbi dan biji. Selain bunga juga dijual souvenir-souvenir khas Amsterdam dan Belanda. Sebenarnya ada tempat yang bagus di Amsterdam yaitu Museum Madame Tussaud, tapi kelihatan dari luar saja antrian sangat panjang. Saya putuskan gausah kesana, lumayan buat irit-irit Euro.

20160515_134424.jpg

Bloomen Markt

20160515_132909.jpg

Jualan bunga dan bibitnya di Bloomen Markt. Ada jual souvenir juga

Hari terakhir saya di Belanda saya juga mengunjungi Den Haag, sebuah kota pusat pemerintahan negara Belanda. Disitu saya janjian dengan seorang rekan dari Bioversity International yaitu Bang Hugo Lamers. Saya memanggilnya abang karena dia pernah tinggal di Aceh pada saat pasca tsunami beberapa tahun yang lalu. Bang Hugo mengajak saya keliling-keliling kota Den Haag. Dia bilang Den Haag adalah kota yang paling banyak komunitas Indonesianya sehingga lebih mudah mencari makanan Indonesia disitu. Dia mengajak saya naik tram dan juga menerangkan tentang sistem transportasi di Belanda yang ramah turis. Saya juga merasakan selama tiga minggu saya pergi ke beberapa tempat transportasi cukup mudah. Karena waktu saya tidak banyak waktu itu saya tidak bisa explore Den Haag lebih banyak lagi. Mungkin lain kali..

20160528_143536.jpg

Bersama Bang Hugo

20160528_133606.jpg

Den Haag

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s