Berpetualang di Negeri Kincir Angin (Part 4: Negeri penuh bunga)


20160514_120318Bagi bangsa Indonesia mungkin komoditas tanaman hias apalagi bunga bukan merupakan prioritas dalam pembangunan pertanian. Kenapa seperti itu? Jawabannya simple, karena kita tidak makan bunga. Pembangunan pertanian di Indonesia masih fokus kepada pemenuhan pangan rakyatnya yang berjumlah 250 juta jiwa. Rakyat kita belum memikirkan masalah tanaman hias yang merupakan kebutuhan sekunder atau bahkan tersier yang mungkin hanya dibutuhkan oleh orang-orang yang memiliki uang lebih. Saat ini yang dipikirkan bagaimana agar seluruh rakyat Indonesia dapat tercukupi kebutuhan pangannya dan mudah mengaksesnya (dalam arti bisa membelinya). Berbeda dengan Belanda yang negara maju yang akses terhadap pangan sudah bagus, dimana kebutuhan pangan sudah tidak lagi menjadi masalah. Bahkan makanan yang diinginkan merupakan makanan-makanan yang berkualitas dengan nilai yang tinggi karena mereka mampu membelinya. Tanaman hias juga sudah merupakan komoditas pertanian kebutuhan sehari-hari dari masyarakat Belanda. Oleh karena itu perlakuan terhadap komoditas tanaman hias ini sudah diperhatikan.

Saya pribadi juga termasuk orang yang menganut paham bahwa segala sesuatu yang hias-hias tidaklah penting. Dulu waktu masih bergelut dengan ikan saya juga menganggap ikan hias tidak penting. Saya dulu hanya menganggap bahwa perut kita harus diutamakan. Dengan menanam komoditas yang bisa dimakan bisnis dapat terus berjalan karena semua manusia butuh makan. Namun selama tiga minggu mengikuti training di Wageningen UR yang bertajuk Horticultura Sector Development for Emerging Markets, saya mendapat kesempatan bagaimana orang-orang Belanda dan Negara-negara maju lainnya memperlakukan bunga menjadi suatu komoditas komersial yang dapat mendatangkan banyak keuntungan. Ada beberapa lokasi yang saya kunjungi yaitu Farm Amarilis, Keukenhof, Royal FloraHollad, dan Anthura. Lokasi-lokasi tersebut menunjukkan bahwa di Belanda perlakuan terhadap bunga sudah sedemikian rupa menjadikan bunga komoditas yang bernilai tinggi untuk orang-orang yang juga bernilai tinggi.

Farm Amarilis yang saya kunjungi merupakan farm keluarga milik Evers van de Sandt. Farm seluas tiga hektar ini dikelola oleh Evers dan keluarganya. Bunga amarilis akan mekar pada akhir tahun dan dijual untuk memenuhi kebutuhan pada saat natal di seluruh Eropa. Seperti diketahui banyak Negara-negara di Eropa merupakan Negara maju yang sudah memandang bunga sebagai kebutuhan untuk keindahan. Tidak seperti berita di Indonesia beberapa waktu yang lalu dimana ada sehamparan bunga amarilis yang mekar di Gunung Kidul, lalu dalam waktu yang singkat rusak oleh orang-orang yang norak berfoto-foto semau gue, menyalah artikan keindahan.

20160512_090310

Farm bunga amarilis

20160512_092741

Pemasaran dan packing langsung di farm

Tempat bunga-bunga kedua yang saya kunjungi adalah Keukenhof yang merupakan sebuah taman yang dibuka setahun sekali hanya pada saat bunga-bunga tulip berbunga. Pada saat itu saya berkesempatan mengunjungi Keukenhof walaupun pada saat itu merupakan H-2 Keukenhof akan tutup untuk tahun 2016. Untuk dapat mengunjungi Keukenhof kita harus membeli tiket di Schiphol Airport atau melalui online. Waktu itu saya membeli tiket online dibantu dengan menggunakan kartu kredit Pak Edwin. Dari Wageningen kami harus naik kereta ke Schiphol Airport, dan dari situ kita bisa naik bus khusus menuju Keukenhof (mungkin kaya kalo kita mau ke PRJ di Jakarta). Saat itu suhu berkisar antara 5 C, hari yang lumayan dingin untuk jalan-jalan.

20160514_103853.jpg

Keukenhof. Di papan selamat datang ada Bahasa Indonesianya

Di seluruh taman bertebaran bunga-bunga tulip indah yang konon kabarnya berjumlah hingga 800 varietas dan beberapa jenis bunga lainnya. Disini dapat dilihat betapa orang Belanda sangat mengagumi dan menghormati bunga nasionalnya hingga dibuatkan satu festival tahunan tersendiri. Para pengunjung termasuk saya dapat melihat bermacam-macam bunga tulip yang indah disini.

20160514_105155

Bunga tulip di Keukenhof

Di tempat ini juga diceritakan sejarah mengenai bunga tulip di Belanda. Bunga tulip merupakan bunga yang asalnya dari Turki. Pada jaman dahulu Sultan Sulaiman II dari Turki menghadiahkan bunga tulip kepada duta besar Swiss (atau mana gitu lupa) yang akhirnya dikembangkan oleh ilmuwan Belanda sehingga berkembang hingga seperti sekarang. Tulip sendiri katanya berasal dari Bahasa Persia yang artinya sorban. Memang bunga tulip bentuknya kan seperti sorban-sorban raja-raja Turki jaman dulu.

20160514_105440

Sejara bunga tulip di Belanda

Selain sejarah tulip di tempat ini juga ada beberapa gedung eksibisi yang dinamai raja dan ratu Belanda. Di dalam ruang eksibisi tersebut dipamerkan bunga-bunga lain selain tulip. Disini terlihat bahwa orang-orang Belanda sangat menghargai bunga. Seakan-akan bunga sudah menjadi kebudayaan mereka dari sejak jaman dahulu hingga jaman modern sekarang ini. Sebuah hamparan kebun tulip juga terdapat di tempat ini namun pada saat saya kesana bunga-bunga tulip sudah dipotong sehingga saya tidak bisa lagi melihat bunga tulip di hamparan. Kabarnya bunga tulip yang sudah dipotong tadi akan diambil umbinya untuk dibudidayakan lagi.

20160514_10460220160514_11461620160514_11163420160514_12210620160514_11142920160514_104749

Bunga-bunga tulip yang cantik

20160514_122119

Tulip paling indah di seluruh Keukenhof (menurut saya)

20160514_110255

Tulip yang unik

Lokasi ketiga yang saya kunjungi dalam kaitannya dengan perbungaan adalah Royal FloraHolland, sebuah tempat pelelangan bunga terbesar di Belanda dan mungkin di seluruh dunia. Semenjak saya bergabung mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan hortikultura sudah beberapa kali saya mendengar mengenai kecanggihan dan keunikan tempat ini. Bersyukur sekali saya bisa mengunjungi dan melihat secara langsung aktivitas pelelangan dan rantai pasok dari bunga. Di tempat ini bunga-bunga dari seluruh penjuru Belanda dan beberapa Negara lain datang dan kemudian kembali lagi didistribusikan dan dijual ke seluruh dunia melalui sistem lelang.

20160518_074334

Pasar rawabelong becomes nothing

Pelelangan bunga ini dimulai pada pukul 6.00 pagi dan selesai pada pukul 8.00 pagi. Sebuah proses yang cepat untuk mempertahankan kesegaran bunga. Setelah lelang selesai dan bunga terjual langsung bunga-bunga tersebut akan diangkut oleh truk-truk yang sudah menunggu ke tempat tujuannya. Truk-truk tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendingin untuk menjamin kesegaran bunga hingga sampai ke tempat konsumen. Dari penjelasan yang diperoleh biasanya bunga-bunga tersebut akan datang pada pukul 15.00 sore dan kemudian dilakukan perlakuan untuk dilelang besok paginya.

20160518_082657

Bunga-bunga yang siap didistribusikan

Pelelangan dilakukan di satu ruangan besar dimana peserta lelang dilengkapi dengan headset untuk mendengarkan informasi mengenai barang yang akan dijual. Jam besar di depan para peserta lelang akan menunjukkan mengenai informasi barang yang akan diual beserta harga yang disepakati. Satu hal yang unik di pelelangan ini adalah jika biasanya lelang dilakukan dari harga terendah ke harga yang tertinggi dan harga tertinggi tersebut akan menjadi pemenangnya, di sini pelelangan dimulai dari harga tertinggi ke harga yang terendah. Dimana harga terendah sudah ditentukan oleh pihak pelelangan dan disini petani sudah terjamin harga jual minimumnya.

20160518_083351

The legendary clocks

Pelelangan ini sudah ada sejak awal abad 20 dan hingga kini masih terus berjalan. Di era modern ini pelelangan justru semakin berinovasi dengan menggandeng perusahaan-perusahaan e-commerse untuk memasarkan produk-produk bunganya ke seluruh dunia. Bahkan Royal FloraHolland sudah bekerjasama dengan alibaba.com untuk memasarkan bunga-bunga produk Royal FloraHolland di China. Melihat tempat ini saya jadi berpikir, pasar bunga rawa belong yang katanya pasar bunga terbesar di Asia Tenggara jadi tidak ada apa-apanya dibanding ini.

20160518_074556

Distribusi bunga hasil lelang. Udah kaya semut pekerja…

Lokasi selanjutnya adalah Anthura yang merupakan produsen Anthurium dan Anggrek Phalaenopsis (Anggrek bulan). Anthura adalah perusahaan yang memiliki spesialisasi di breeding anthurium dan anggrek bulan sehingga dapat menciptakan varietas baru serta menjual tanaman-tanaman muda yang belum berbunga untuk dikembangkan oleh para growers. Karena spesialisasinya di breeding banyak sekali varietas-varietas yang dihasilkan oleh anthura. Vareitas-vareitas yang telah dihasilkan tersebut tetap dijaga oleh perusahaan karena siapa tau trend yang ada berganti-ganti sehingga perusahaan bisa tetap mengikuti trend. Saya jadi merasa miris mendengar cerita di salah satu tempat penelitian tanaman hias yang koleksi vareitas yang telah dihasilkannya habis entah kemana. Padahal apabila benih varietas tersebut tetap ada maka jika trendnya sedang cocok maka varietas tersebut bisa dikembangkan. Tapi waktu trend sedang cocok dan varietasnya tidak ada maka pemilik vareitas hanya bisa gigit jari.

20160523_122347

Display Anthurium di rumah kaca

20160523_123553

Beautiful Phalaenopsis

Tidak hanya di beberapa tempat tersebut bunga-bunga bermekaran di Belanda. Di rumah-rumah baik itu sebagai bunga di taman atau bunga potong untuk diletakkan dalam pot dan vas bunga juga sering saya lihat. Bahkan salah satu pemateri di kelas mengatakan bahwa setiap hari istrinya selalu membeli bunga untuk diletakkan di dalam vas bunga untuk di meja makannya. Sebegitu menghargainya orang-orang negara maju dengan bunga. Mungkin Indonesia masih jauh untuk itu.

Pos ini dipublikasikan di Pertanian, Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Berpetualang di Negeri Kincir Angin (Part 4: Negeri penuh bunga)

  1. Sari berkata:

    Beautiful flowers, beautiful experiences, thank u for sharing. really want to get there..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s