Berpetualang di Negeri Kincir Angin (Part 5: Horticulture in Netherlands)


Sebagai orang yang bisa dibilang baru dalam dunia hortikultura, saya senang sekali mendapat kesempatan untuk mempelajari hortikultura di negara lain. Horticulture sector development for emerging markets. Itulah judul dari training yang saya ikuti di Wageningen, Belanda pada tanggal 9-27 Mei 2016. Disini saya mempelajari mengenai konsep rantai nilai pada bisnis hortikultura di Negara Belanda. Beberapa diantaranya dapat diterapkan di Indonesia dan beberapa diantaranya yang lain mungkin masih berat untuk dapat diterapkan karena membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Pada training kali ini kami para peserta training diajak untuk mengunjungi beberapa tempat yang menggambarkan proses rantai nilai pada sub sektor hortikultura di Belanda. Mulai dari produsen hingga ke pemasaran serta pendukung-pendukung kegiatan utama di rantai nilai hortikultura seperti institusi penelitian, perusahaan perbenihan, dan perusahaan produsen musuh alami tanaman. Masing-masing tempat yang kami kunjungi merupakan wakil dari masing-masing mata rantai dalam rantai nilai yang menciptakan efisiensi dan nilai tambah pada hortikultura di Belanda, sebuah negara kecil dengan segala keterbatasannya (lahan kurang dan sebagian wilayahnya yang ada di bawah permukaan laut). Disini digambarkan peranan sub-sektor hortikultura bagi pertanian Belanda yang menyumbang sekitar 40% dari total nilai produk pertanian Belanda yang mencapai 8 Miliar Euro dan dapat menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja. Berbeda dengan Indonesia yang sebagian besar nilai produk pertanian masih didominasi oleh sub-sektor tanaman pangan dan perkebunan.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia, pembangunan hortikultura di Belanda sepertinya sudah tidak bergantung lagi dari campur tangan pemerintah. Mungkin pemerintah hanya memberikan kontribusinya untuk pengembangan hortikultura di Belanda dari segi perijinan dan fasilitas pendukung lain. Selebihnya usaha hortikultura di Belanda sudah berjalan sendiri dan dikelola secara profesional oleh petani (mungkin lebih pantes disebut pengusaha). Disini petani juga sudah banyak bersatu membentuk asosiasi atau koperasi sehingga posisi tawarnya kuat di dalam rantai nilai produk hortikultura. Proses rantai nilai yang terjadi sudah membagi sesuai dengan proporsinya untuk beberapa mata rantai yang terlibat di komoditas tertentu. Mata rantai mulai dari produsen hingga ke konsumen semuanya mendapatkan manfaat yang seimbang dari produk yang dihasilkannya. Didukung pula dengan aktor-aktor pendukung, regulasi, dan lingkungan sekitar yang mendukung pengembangan hortikultura di Belanda.

20160524_145942

Berpose di perusahaan distribusi sayur dan buah segar

Kebanyakan produsen produk-produk hortikultura segar terutama sayur dan bunga di Belanda memproduksi produknya di dalam rumah kaca. Bahkan daerah yang bernama Naaldwijk merupakan kompleks daerah dengan populasi rumah kaca terbesar di Belanda. Di tempat tersebut kondisi lingkungan dapat terkontrol sehingga komoditas yang diusahakan didalamnya dapat tumbuh dengan optimal dengan efisiensi input produksi yang dapat dicapai. Produktivitas di dalam rumah kaca juga terbilang tinggi sehingga dengan biaya besar yang dikeluarkan, hasil yang diperoleh juga akan besar. Komoditas hortikultura seperti tomat, ketimun, sayuran daun, dan bunga banyak dibudidayakan di tempat tersebut. bahkan dari data yang diperoleh produksi tomat di rumah kaca yang lengkap dengan pemanas, reaktor CO2, dan penyinaran buatan dapat meningkat delapan kali lipat dibandingkan produksi tomat di tempat terbuka. Sekali lagi jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia mungkin masih sulit diterapkan mengingat harga tomat yang pernah nyaris tidak ada harganya (kecuali jika menargetkan pasar tertentu dengan modal yang tertentu pula). Sebuah perusahaan produsen tomat di Belanda yaitu Tomato World juga mengusahakan bermacam-macam varietas tomat di dalam rumah kaca untuk berbagai macam pasar.

20160518_112336

Menanam tomat di rumah kaca. TomatoWorld…

Tidak jauh dari Naaldwijk yaitu di daerah Bleiswijk (daerah yang juga banyak terdapat rumah kaca) terdapat institusi riset milik Wageningen UR yang khusus memfokuskan risetnya untuk pengembangan rumah kaca. Sebanyak sekitar 80 orang peneliti di insitusi riset ini fokus melakukan penelitian pengembangan rumah kaca untuk pengendalian lingkungan, pengendalian hama, manajemen tanaman, dan fertigasi.

20160523_104855

Pusat Penelitian rumah kaca Wageningen UR

Selain itu tenaga kerja yang digunakan juga benar-benar efisien. Banyak produsen komoditas hortikultura di dalam rumah kaca telah menggunakan mekanisasi dalam proses produksi maupun pengemasannya. Bahkan di farm paprika yang saya kunjungi waktu itu pengangkutan hasil panen dari rumah kaca menuju tempat pengemasan dilakukan oleh robot. Hal ini juga untuk meminimalisir biaya tenaga kerja yang mahal. Sebagai gambaran tenaga kerja di Belanda dibayar per jam nya sekitar 15 Euro. Pajak penghasilan yang dikenakan sangat tinggi sekitar 50% dari penghasilan sehingga total yang dapat dibawa pulang adalah sekitar 7 Euro per jam. Jika dibandingkan dengan tenaga kerja buruh tani di Indonesia sebenarnya tidak begitu jauh bedanya. Buruh tani di Indonesia dibayar sekitar 5 Euro. Perbedaannya buruh tani di Indonesia dibayar 5 Euro PER HARI, bukan per jam!!

20160512_105721.jpg

Pemanenan paprika menggunakan robot

Kebanyakan farm yang ada di Belanda yang saya kunjungi saat itu sudah menerapkan efisiensi dalam rantai nilai. Mereka langsung menjual produk-produk dari farmnya dalam kemasan, meskipun skala dari farmnya adalah farm skala kecil (skala kecil disana minimal 3 hektar). Disini bisa dilihat bahwa di tingkat produsen, pengusaha hortikultura sudah melakukan pemberian nilai tambah agar produk-produknya dapat dijual dengan harga lebih tinggi. Pemberian nilai tambah tersebut tidak hanya dengan memberikan kemasan pada produk-produknya, tapi juga dengan menerapkan Praktek Budidaya yang Baik dan Benar / Good Agricultural Practices (GAP) yang dipadukan dengan Manajemen Hama Terpadu / Integrated Pest Management (IPM) yang meminimalisir penggunaan pestisida kimia sintetis. Dengan perlakuan tersebut produk yang dihasilkan akan menjadi produk bernilai tinggi dengan kualitas yang baik dan rendah residu pestisida.

20160524_094612.jpg

Pengemasan di tingkat farm pada farm stroberi skala kecil

20160518_112236.jpg

Kotak serangga dalam rumah kaca untuk polinator dan musuh alami hama

Selain di rumah kaca, budidaya komoditas hortikultura juga banyak dilakukan di tempat terbuka. Sebuah institusi penelitian di bawah koordinasi Wageningen UR khusus melakukan penelitian buah-buahan. Mereka disini khusus melakukan penelitian untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di buah-buahan. Sama seperti institusi penelitian rumah kaca, tempat penelitian buah-buahan ini juga melakukan penelitian benar-benar berangkat dari masalah yang ada yang disampaikan oleh pengguna. Bahkan sebanyak 30% dana penelitian berasal dari pengguna yang menjadi sponsor penelitian yang dilakukan. Dengan begitu diseminasi teknologi dan hasil-hasil penelitian yang telah dihasilkan tidak lagi sulit karena memang hasil-hasil tersebut sudah ditunggu oleh pengguna.

20160512_162309.jpg

Sponsor penelitiannya banyak…

Selain dikenal sebagai produsen produk-produk hortikultura, Belanda juga dikenal sebagai produsen benih yang cukup ternama. Pada kesempatan yang lalu saya mengunjungi sebuah perusahaan perbenihan di Belanda yaitu Bejo Seed. Perusahaan ini merupakan perusahaan perbenihan yang memiliki mitra produksi benih tidak hanya di Belanda tapi di beberapa negara-negara lainnya seperti Spanyol, Guatemala, dan lain-lain. Produksi benih kebanyakan diproduksi di negara-negara tersebut namun untuk kontrol kualitas dan pengemasan tetap dilakukan di Belanda untuk menjamin kualitas dari benih. sebelum dikemas akan dilakukan pemeriksaan benih yang dilakukan secara bertahap mulai dari benih datang kemudian dilakukan pemeriksaan fisik untuk memisahkan benih dari kotoran-kotoran fisik seperti pasir dan lain-lain. Setelah itu diambil sampel untuk dilakukan uji perkecambahan. Apabila persentase perkecambahan kurang dari yang diharapkan maka akan dilakukan perlakuan yang akan meminimalisir gangguan-gangguan baik itu fisik, kimia, ataupun biologi terhadap benih. setelah itu dilakukan kembali uji perkecambahan dan jika presentasenya masih kurang dari yang diharapkan maka benih akan dibuang.

20160523_150429.jpg

Quality Checking di Bejo Seed

Manajemen rantai nilai untuk menciptakan produk-produk hortikultura yang bernilai tinggi juga didukung oleh adanya logistik dan dukungan bentuk lain yang mendukung. Sebuah food park berdiri mendekati sentra produksi hortikultura di Belanda. Food park yang saya kunjungi saat itu adalah Venlo Food Park. Mungkin kita sudah umum dengan adanya Business Park yaitu sebuah area bisnis yang biasanya digunakan untuk industri dan pergudangan. Food park ini juga mengambil konsep seperti itu namun khusus untuk produk-produk pertanian. Di area ini terdapat pelelangan produk buah dan sayur, gudang berpendingin, bengkel untuk pengangkutan, dan lain-lain. Sebuah konsep yang terintegrasi untuk mempertahankan mutu produk agar tetap segar dan sesuai dengan keinginan konsumen.

20160524_114924.jpg

Logistik di Food Park

Satu yang menarik disana adanya satu perusahaan yang mendukung manajemen rantai nilai produk hortikultura dari segi minimalisasi penggunaan pestisida kimia. Koppert merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi serangga untuk penyerbukan dan musuh alami dari hama dan penyakit. dengan menggunakan serangga untuk penyerbukan (misalnya lebah), penyerbukan dapat tetap terjadi walaupun budidaya dilakukan di dalam rumah kaca. Selain itu dengan menggunakan musuh alami dari hama, maka penggunaan pestisida kimia sintetis dapat diminimalisir sehingga produk-produk yang dihasilkan merupakan produk berkualitas rendah residu pestisida

20160524_095649.jpg

Musuh alami untuk menekan jumlah hama

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s